MERIAM KUNO di Bengkulu Selatan


Pada tanggal 1 April 2008 bersama dengan dua orang rekan kerja bernama Yul dan Erni, saya bertugas ke Kota Bengkulu dalam rangka pembinaan juru pelihara BCB/Situs Propinsi Bengkulu yang berjumlah 18 orang. Setelah acara selesai, kami bertiga melanjutkan perjalanan dengan ditemani Bpk. Fachri Bustaman (Kasubdin Kebudayaan Dinas Pendidikan Nasional Propinsi Bengkulu) menuju lokasi temuan meriam dan makam tua di Kab. Bengkulu Selatan.

Setelah menempuh perjalanan selama 4 jam dengan menggunakan mobil Kijang Innova milik Yul, akhirnya kami tiba di lokasi. Jalan beraspal yang dilalui antara Bengkulu dan Manna dalam kondisi cukup baik. Hanya dibeberapa tempat saja terdapat jalan rusak. Namun jalan aspal dari simpang tiga yang terletak setelah Kota Manna ke arah Kaur sampai ke lokasi dalam kondisi kurang baik.

Lokasi meriam dan makam tua secara administratif terletak di Desa Gedung Agung, Kecamatan Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan. Tepatnya di sebelah Barat desa atau di ujung jalan tanah yang diapit oleh Air (sungai) Sebilau. Untuk menuju kesana melalui simpang tiga yang berada sebelum SD Gedung Agung. Jalannya dapat dilalui oleh kendaraan roda empat dari satu arah saja. Permukaan tanah di lokasi lebih tinggi dibandingkan daerah yang berada di seberang sungai sehingga dari tempat tempat tersebut dapat dilihat hamparan sawah.

Meriam kuno terbuat dari besi dalam kondisi tergeletak di makam Puyang Ratu. Pada masa lalu diperkirakan meriam itu berada di atas kereta kayu yang memakai dua roda dan untuk membawanya ditarik dengan kereta kuda. Meriam digunakan dengan memakai bola besi dan ditembakkan dengan menyulut api di bagian pangkalnya. Meriam buatan Eropa pada masa abad 18 Masehi. Diperkirakan pernah digunakan oleh Bangsa Inggris atau Belanda, karena kedua bangsa itu yang pernah menjajah Bengkulu.

Makam tua yang berjumlah tiga buah merupakan makam Puyang Ratu, Panas Petang, dan Mas Panji Pulau. Puyang Ratu adalah seorang penguasa, sedangkan dua lainnya adalah pengawalnya. Pada ketiga makam itu tidak ada tulisan sama sekali. Nisannya terbuat dari batu alam yang ditegakkan. Orientasi makam Utara-Selatan yang menandakan sebagai makam orang yang telagh beragama Islam. Makam lainnya yang terdapat di Desa Gedung Agung adalah makam Raja Kalipa. Makam-makam tua tersebut diperkirakan sebagai makam-makam para pemimpin lokal. Nama-nama mereka masih diingat secara turun temurun.

Dilokasi itu dijumpai pula jalan tanah yang berada di sebelah Utara makam Puyang Ratu. Letaknya lebih rendah dari makam sedalam 8 meter dan berada di pinggirtebing. Jalan yang lebarnya sekitar 3 meter dahulunya dapat dilalui oleh pedati hingga tepi sungai. Perjalanan dilanjutkan dengan menggunkan rakit bambu yang ditarik dengan cara memegang tali yang melintang di atas sungai. Jalan tanah itu dahulunya jalur transportasi untuk mengangkut hasil bumi, terutama beras. Untuk pengamanan jalan tersebut ditempatkan pos-pos.


Share:

13 komentar:

Anonim mengatakan...

horeeee.. aa gue akhirnya minat sama nulis menulis and nge-blog.

btw, a, tulisannya kok ga ada paragrafnya sih?
trus mana itu buku tamunya????

nahar cahyandaru mengatakan...

Haloo mas agus
Sudah bikin blog ya.
Alamat blog mas agus akan saya tampilkan di link blog saya.
Alamat saya di barabudur.blogspot.com juga tolong ditampilkan
terimakasih

Anonim mengatakan...

kunjungin ya A, ini semua my blogs

http://www.isonetea.blogspot.com/
http://onetea.blogdrive.com/
http://onetea.multiply.com/

Anonim mengatakan...

welehweleh bosen ah

Anonim mengatakan...

wah, mantap situsnya mas agus...bisa jadi referensi tulisan2 saya nih....semoga selalu di up date...sukses selalu mas..

heroeweb mengatakan...

Saya tertarik dg blog ini. ratu gedung agung adalah salah satu nama dari beberapa nama samaran yg dimiliki agar tidak diketahui oleh belanda waktu itu dan mempunyai isteri bangsawan Inggris. Lettu Ubadi adalah salah satu cucu beliau yang dipakai sebuah nama jalan di bengkulu. Lettu Ubadi tidak ada makamnya karena waktu itu dibunuh oleh Belanda dan dibuang ke sungai. keluarga Lettu Ubadi ( isteri dan anak beliau )beserta keluarganya lari ke pulau jawa ( cepu / Jawa tengah)anak kandung dari Lettu Ubadi yag laki laki masih ada dan sekarang tinggal di sidoarjo.sedang anak perempuan Lettu Ubadi neninggal dunia di Kalimantan terkena serangan jantung. sedangkan beberapa saudara dan kerabatnya masih ada di Manna bengkulu Selatan.

Unknown mengatakan...

heroewb#maaf saya boleh tau hubungan anda dengan keluarga ubadi itu seperti apa silsilahnya? terima kasih.

Powerbank Samsung mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
hoomycake mengatakan...

Iya ibu wanda, saya sangat berterima kasih pada blog ini, sahingga saya bisa bercerita. Saya dapat banyak cerita dari ayah saya dari saya kecil sampai sekarang. Ayah saya sekarang berusia 70 tahun. Eyang putri saya atau istri dari lettu ubadi dimakamkam didesa balun cepu jawa tengan.kami banyak cerita mengenai hal tersebut yang semuanya tidak bisa diceritakan dalam blog ini. Kami dari keluarga alm.lettu ubadi sangat berterima kasih.

Unknown mengatakan...

Mohon info Silsilah Dari Puyang Ratu Agung Ke Atas Trims

Unknown mengatakan...

Mohon info makam yg disekilingnya ada tawon,untuk mmasuki lokasi makam katany hanya bisa dilakukan bgi anak.cucu puyang saja

Unknown mengatakan...

Mohon info makam yg disekilingnya ada tawon,untuk mmasuki lokasi makam katany hanya bisa dilakukan bgi anak.cucu puyang saja

hoomycake mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Profile

Foto saya
AGUS SUDARYADI, arkeolog yang bekerja di Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi Wilayah Kerja Prop. Jambi, Sumsel, Bengkulu, dan Kep. Bangka-Belitung yang sering melakukan Jelajah Situs dalam rangka Pelestarian Cagar Budaya. Menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Situs adalah lokasi yang berada di darat dan/atau di air yang mengandung Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan atau Struktur Cagar Budaya sebagai hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian pada masa lalu. Pekerjaan tersebut memberikan saya kesempatan untuk menjelajahi pelosok negeri di Propinsi Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Kepulauan Bangka-Belitung. Pelosok karena lokasi yang kami datangi kebanyakan berada di luar kota, bahkan sampai masuk hutan. Maklum Cagar Budaya atau Diduga Cagar Budaya yang saya tuju sekarang berada di daerah yang jauh dari kota. Kegiatan yang memerlukan stamina dan mental yang kuat adalah dalam rangka pelestarian Cagar Budaya Bawah Air. Saya telah mengikuti pelatihan Arkeologi Bawah Air di dalam dan luar negeri, antara lain Makassar Sulsel, Pulau Bintan Kepri, Tulamben Bali, dan Karimunjawa Jateng serta Thailand dan Sri lanka.

Popular Posts

Recent Posts

Pages