• Arkeologi Bawah Air

    Negara Indonesia adalah negara yang besar dengan wilayah lautannya lebih luas daripada daratannya. Potensi lautannya menyimpan kekayaan peninggalan warisan bawah air yang sangat besar.

  • Arkeologi Islam

    Masjid Jamik telah ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor KM.10/PW.007/MKP/2004 tanggal 3 Maret 2004 tentang Penetapan Benteng Marlborough

  • Benteng Marlborough

    Lokasi Benteng Marlborough berdiri kokoh di tepi laut di atas sebuah dataran dengan ketinggian lebih kurang 8,5 meter di atas permukaan laut (dpl).

  • PELESTARIAN BENDA CAGAR BUDAYA: DAHULU DAN SEKARANG

    PendahuluanBangsa Indonesia yang memproklamirkan kemerdekaannya pada Tanggal 17 Agustus 1945 mempunyai latar sejarah yang sangat panjang, dimulai dari masa Prasejarah sampai dengan masa kolonial.

WISMA RANGGAM : Tempat Para Tokoh Kemerdekaan Di Asingkan


Pendahuluan

Kota Mentok mempunyai peninggalan masa Kolonial yang cukup banyak. Bahkan beberapa bangunan yang bercirikan kolonial masih terpelihara. Salah satu bangunan yang penting adalah Wisma Ranggam. Wisma Ranggam didirikan oleh Perusahaan Timah Belanda, Banka Tin Winning (BTW) pada tahun 1890. Bangunan ini dahulu digunakan sebagai tempat penginapan bagi para karyawan perusahaan tersebut. Pada masa penjajahan Belanda wisma ini pernah digunakan sebagai tempat pengasingan bagi Pangeran Hario Pakuningprang, salah seorang keturunan bangsawan Keraton Surakarta yang menentang penjajah Belanda. Makamnya sekarang terletak di pemakaman umum Kebon Nanas di Mentok. Pada tahun 1949 bangunan bersejarah ini juga menjadi tempat pengasingan bagi para tokoh politik bangsa Indonesia, antara lain Ir. Soekarno, H. Agus Salim, M. Roem dan Ali Sastroamijoyo.
Pada masa awalnya bangunan yang disebut juga sebagai Pasanggrahan hanya mempergunakan kayu dan belum permanen. Pada tahun 1924 dibangun kembali dengan tidak merubah dan menggantikan ukuran-ukurannya. Pada tahun 1927 menjadi bangunan permanen seperti bentuknya yang sekarang. Pada masa berikutnya Pasanggrahan itu menjadi milik PT. Timah dan dinamakan Wisma Ranggam yang difungsikan sebagai tempat menginap tamu. Pembangunan-pembangunan yang terjadi menyebabkan perubahan bentuk  di beberapa bagian bangunan. Nasib Wisma Ranggam berikutnya kurang terpelihara setelah PT. Timah mengalami kemunduran berkaitan dengan harga timah yang semakin murah. Pada tahun 2002 Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala melakukan pemugaran untuk  mengembalikannya kepada bentuk semula. Pemugaran yang berjalan selama dua tahun telah menjadikan Wisma Ranggam  kembali kebentuk aslinya. Setelah itu ditempatkan dua orang juru pelihara untuk melakukan pemeliharaannya.

Sejarah Wisma Ranggam
Kota Mentok yang pernah menjadi ibukota pemerintahan Pulau Bangka di masa lalu meninggalkan banyak bangunan purbakala, terutama yang berasal dari masa kolonial Belanda. Belanda berkuasa sangat lama dan melakukan eksplorasi timah secara besar-besaran. Pertambangan timah di pulau ini mendorong pekerja tambang dari luar terutama Cina berdatangan dan menetap ke Pulau Bangka. Hal ini terlihat dari bangunan purbakala dan peninggalan lainnya yang banyak terdapat di Mentok bernuansa kolonial dan Cina.
Bangunan Kolonial yang terdapat di Kota Mentok salah satunya adalah Wisma Ranggam. Wisma Ranggam dahulunya bernama Pesanggrahan Mentok. Kata pesanggrahan berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya tempat peristirahatan. Pesanggrahan Mentok dibangun sekitar tahun 1890 oleh perusahaan timah Belanda yang bernama Banka Tin Winning sebagai tempat peristirahatan pegawai  yang bekerja. Pada awalnya bangunan Pesanggarahan berupa bangunan yang terbuat dari kayu.
Pada tahun 1897 pernah dipakai sebagai tempat pengasingan tokoh dari Kesultananan Surakarta yang menentang Belanda bernama Pangeran Hario Pakuningprang. Pangeran ini adalah seorang Susuhunan Sunan Paku Alam II yang ditugaskan Belanda untuk berperang melawan pasukan Aceh dalam Perang Aceh.  Namun pangeran itu justeru berpihak kepada pasukan Aceh untuk melawan Belanda. Akhirnya Beliau ditangkap dan diasingkan ke Mentok. Belanda juga melarangnya untuk berhubungan dengan masyarakat Mentok. Setelah selama 7 bulan mengalami pengasingan, Beliau pada tanggal 18 Agustus 1897 wafat dan dimakamkan di daerah Kebun Nanas.
Pada tahun 1924 Wisma Ranggam dibangun kembali dengan tidak merubah bentuk dan ukuran. Selanjutnya pada tahun 1927 dilakukan perombakan-perombakan sehingga menjadi bentuknya yang sekarang. Perancang  dari bangunan itu adalah Antwerp J. Lokollo yang berasal dari Ambon. Pada tahun 1930 dengan arsitek yang sama, BTW  membangun kolam renang untuk pegawai dan keluarganya dan umumnya hanya orang-orang bule saja yang memakainya.  Dikarenakan sumber air yang dipergunakan untuk mengisi kolam berasal dari air terjun, maka kolam renang itu bernama kolam renang air terjun.
Pesanggrahan Mentok menjadi data sejarah karena digunakan sebagai tempat pengasingan pemimpin Kemerdekaan Indonesia.  Kekalahan Jepang oleh Sekutu dalam perang Dunia II dengan dibomnya Hiroshima dan Nagasaki dimanfaatkan oleh Belanda untuk kembali ke Indonesia. Pada tanggal 18 Desember 1949 Belanda melakukan serangan ke Yogyakarta. Penyerangan tersebut yang dikenal sebagai Agresi Belanda II menyebabkan Ibu Kota Negara RI Yogyakarta jatuh kepada Belanda pada tanggal 19 Desember 1949.  Para pemimpin RI ditangkap dan diasingkan ke Kota Mentok. Rombongan pertama pada tanggal 22 Desember 1949  di tempatkan di Pesanggrahan Menumbing, yaitu :
1.      Drs. M. Hatta, Wakil Presiden dan Perdana Menteri
2.      Mr. A.G. Pringodigdo, Sekretaris Negara
3.      Mr. Asa’at, BPKNIP
4.      Komodor Surya Darma
Pada tanggal 24 Desember 1949 sebuah pesawat pembom B-26 membawa pemimpin Indonesia yang lain ke tempat yang sama dengan rombongan pertama, terdiri dari :
1.      Mr. Ali Sastroamidjoyo, Menteri P dan K
2.      Mr. Moch. Roem, Ketua delegasi perundingan RI

Pada tanggal 6 Pebruari 1949 tawanan yang menyusul dibawa ke Mentok dan ditempatkan di Pesanggrahan Mentok, yaitu Presiden Ir. Soekarno dan H. Agus Salim, Menteri Luar Negeri. Tokoh-tokoh yang kemudian ke Pesanggrahan Mentok adalah Mr. Moch. Roem, dan Mr. Ali Sastroamidjojo. Dengan demikian pemimpin Indonesia yang ditempatkan di Pesanggrahan Mentok berjumlah empat orang dengan menempati kamar 12 adalah Ir. Soekarno, kamar 11 adalah H. Agus Salim, kamar 12-A adalah  Mr. Moch. Roem, dan kamar 1 adalah tempat  Mr. Ali Sastroamidjojo. Di Pesanggrahan Mentok tersedia mobil jenis sedan Ford tipe Deluxe buatan tahun 1946 bernomor B-10. Pada saat itu urusan pemerintahan Indonesia diserahkan kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Pesanggrahan Mentok  juga  menjadi tempat perundingan antara Indonesia dan Belanda yang disebut Perundingan Roem-Royen. Perundingan tersebut dihadiri Komisi Tiga Negara (KTN) yang terdiri dari wakil-wakil dari Australia, Belgia, dan Amerika. Pertemuan dihadiri pula wakil dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Bijen Konvoor Federal overly (BFO). Anggota KTN yang hadir adalah Merle Cochram, koetts, TK. Critcly, G. Mc. Kahin, Merremans, dan Prof. Lyle. Perundingan menghasilkan antara lain kesepakatan bahwa pada tanggal 6 Juli 1949 semua pemimpin Indonesia dibebaskan dan kembali ke Yogyakarta.
Pada tahun 1976 terjadi penggantian nama Pesanggrahan menjadi Wisma Ranggam di bawah penguasaan PT. Timah. Pada tahun itu pula bagian depan diperbaiki. Pada tahun 1983 bagian depan yang telah diperbaiki ditutup sama sekali sehingga untuk memasukinya harus melalui pintu kecil. Hal itu sempat menimbulkan pro dan kontra dari masyarakat. Kemudian oleh pimpinan PT. Timah pada saat itu dikembalikan lagi ke bentuk aslinya. Sejak perbaikan terakhir pada tahun 1983 dengan melakukan penambahan-penambahan, maka Wisma Ranggam tidak mengalami perombakan lagi.  
Wisma Ranggam telah beberapa kali mengalami perbaikan-perbaikan atau lebih tepatnya dengan istilah pemugaran. Pemugaran adalah kegiatan yang bertujuan untuk mengembalikan kedalam bentuk semula suatu bangunan peninggalan sejarah,tanpa merubah bentuk,bahan,warna serta tata letak bangunan itu sendiri.  Berdasarkan pengertian tersebut maka Wisma Ranggam mengalami pemugaran secara benar adalah pemugaran yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi tahun 2003. Adapun pemugaran–pemugaran yang dilakukan sebelumnya hanyalah merupakan perbaikan-perbaikan secara umum yang bersifat fungsional dan estiteka. Seperti yang dilakukan pada tahun 1976 perbaikan berupa penambahan ruang di beberapa bagian guna memenuhi kebutuhan ruang saat itu. Begitu pula yang dilakukan tahun 1982.
Pemugaran yang dilakukan tahun anggaran 1998 oleh Kanwil Depdikbud Sumatera Selatan sesungguhnya bertujuan melakukan kegiatan pemugaran yang sesungguhnya, namun data penunjang untuk menggembalikan kedalam bentuk semula rupanya mengalami banyak kendala, sehingga kegiatan yang dilakukan adalah merupakan penambahan komponen bangunan yang berfungsi sebagai pencegahan kerusakan lebih lanjut.

Deskripsi Wisma Ranggam
Wisma Ranggam terletak di Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Sungai Daeng, Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat. Lokasinya berada di daerah yang tidak terlalu padat. Rumah-rumah yang berdiri di samping tidak terlalu dekat. Bahkan dibagian depan atau seberang  jalan masih berupa kebun. Pada saat kegiatan berlangsung sedang dilaksanakan pelebaran jalan. Hal itu menyebabkan daerah tersebut lebih ramai dari sebelumnya.
Wisma Ranggam menempati lahan seluas 7.910 m2 berdasarkan Sertifikat Nomor 04.04.80.03.3.00118 yang dikeluarkan Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Bangka. Di atas tanah itu berdiri bangunan-bangunan yang terdiri  dari bangunan induk,  bangunan pelengkap, dan bangunan baru. Uraian bangunan-bangunan yang terdapat di Wisma Ranggam sebagai berikut :

1.     Bangunan Induk
Bangunan induk merupakan bangunan yang paling besar  dan letaknya berada di depan.  Bangunan induk dan bangunan dapur serta KM/WC telah dikembalikan kepada bentuk aslinya melalui pemugaran tahun 2003. Berikut deskripsi bangunan  induk yang meliputi denah, lantai, dinding, pintu jendela, plafon (langit-langit) dan atap.

Denah

Denah merupakan gambar yang menunjukkan bentuk tata ruang suatu bangunan serta kelengkapannya baik berupa letak dan ukuran pintu maupun jendela. Denah bangunan induk  terdiri dari denah ruangan utama dan ruangan sayap  yang berada di bagian kiri dan kanan ruangan utama. Denah ruangan utama memiliki ukuran panjang 32 meter dan lebar berukuran 15,6 meter, sedangkan ruangan sayap masing-masing berukuran panjang 14 meter dan lebar 8 meter. Bangunan induk memiliki 10  ruang yang berfungsi dan berukuran sebagai berikut:
-       Ruang C3 yaitu ruang yang  sebagai tempat tidur Bungkarno berukuran 5,5  x 4 meter
-       Ruang C2 yakni ruang tempat tidur KH. Agus Salim berukuran 6  x 4 meter
-       Ruang C5 adalah tempat tidur Mr. Moh. Rum memiliki ukuran  5,5  x  4 meter
-       Ruang C6 merupakan tempat tidur Mr. Ali Sastro Amidjojo berukuran 6  x 4 meter
-       Ruang D3 merupakan ruang terusan ruang C3 berukuran 5,5  x 5 meter
-       Ruang D2 adalah ruang terusan kamar KH. Agus Salim berukuran 5  x 4,5 meter
-       Ruang E2 merupakan ruang terusan kamar Ali Sastroamidjojo berukuran 5  x 4,5 meter
-       Ruang E3 adalah ruang yang menyatu dengan ruang Moh. Rum berukuran 5,5  x 5 meter
-       Ruang pertemuan berukuran 9,5  x 6,5 meter
-       Ruang tamu memiliki ukuran  6  x 6 meter
Ruangan Utama juga memiliki ruangan yang diteruskan kebelakang sebagai ekor berukuran panjang 6,5 meter, lebar  5  meter yang berfungsi sebagai gudang dan teras belakang. Sedangkan pada bagian ruangan sayap terdiri dari enam ruang yang memiliki ukuran sebagai berikut:
-       Ruangan sayap kiri yang terletak di sisi selatan memiliki 3(tiga) ruang dan berukuran masing–masing 4,5  x4,5 meter.
-       Ruangan sayap kanan berada di sisi utara juga memiliki  3(tiga) ruang  berukuran sama yakni masing-masing  4,5   x 4,5 meter. 

Lantai
Lantai terbuat dari bahan tegel atau ubin serta  semen dan secara umum pada saat ini masih dalam kondisi baik. Walaupun terdapat perbedaan dari jenis bahan, namun sebagian besar masih menunjukkan keasliannya. Ubin lantai yang terdapat pada bagian selasar kiri dan kanan bangunan induk terdiri dari bahan ubin pasiran yang bermotif bunga. Sedangkan yang diruang lain berupa ubin polos dominan warna kuning dan sebagian warna merah hati. Ubin lantai memiliki ukuran 20 x 20 cm. Pada saat sekarang ini lantai ruang bagian dalam ditutup dengan karpet.

Dinding
Dinding merupakan komponen penting pada suatu bangunan. Dinding juga merupakan pembatas suatu ruang/penyekat yang berfungsi pula sebagai pengaman dan pencegah dari cuaca panas atau dingin. Dinding terbuat dari pasangan batu merah atau bata yang berplester (tembok) yang memiliki ketebalan 30 cm yang dalam istilah teknis dikenal pasangan satu batu, sedangkan ketinggian dinding bangunan mencapai 5,50 meter.

Plafon
Bangunan induk secara keseluruhan memiliki plafon yang terbuat dari bahan papan jenis kayu klas II yang disusun memanjang dan pada setiap tepinya dipasang lis kayu berprofil. Warna cat yang digunakan untuk plafon berwarna  kuning muda. Pada beberapa ruang diantaranya ruang C2, C3, E2, dan E3 pada setiap keempat sudutnya terdapat lubang udara berdiameter 20 cm. dan masing-masing lubang dipasang kawat anyaman. Tidak diketahui secara pasti fungsi lubang-lubang tersebut sebagai  penyerap udara atau hanya untuk variasi belaka.

Pintu
Komponen yang paling penting lain pada suatu bangunan adalah pintu karena  fungsi pintu amat vital sebagai jalan keluar masuk manusia atau barang. Jenis pintu yang terdapat pada bangunan induk sedikitnya ada tiga jenis yaitu :
-       Pintu tunggal, yaitu pintu yang hanya memilki satu daun pintu
-       Pintu double, yaitu pintu pada setiap ibu pintu (kusen) terdapat dua daun pintu
-       Pintu rangkap, yaitu pada suatu kusen terdapat dua atau lebih daun pintu pada sisi luar dan sisi dalam
Ventilasi
Ventilasi pada suatu bangunan memiliki fungsi sebagai  sarana pencahayaan juga berfungsi sebagai keluar masuknya udara agar suhu ruang tetap dalam keadaan bersih dan segar. Adapun bentuk dari pada ventilasi adalah sangat beragam, tergantung selera pemilik bangunan bersangkutan. Namun belakangan ini ventilasi bukan hanya merupakan sarana konvensional belaka namun sudah merupakan gaya atau trend yang memiliki daya tarik dan pemanis suatu bangunan rumah tinggal atau gedung kantor dan sebagainya.
Ventilasi yang terdapat pada bangunan induk memiliki beberapa bentuk dan bahan, dibedakan menurut tempat, yaitu ventilasi dapat berdiri sendiri atau menyatu dengan kusen pintu atau jendela. Ditinjau dari bahan pembuatannya ventilasi yang terdapat di bangunan ini menggunakan bahan-bahan : kayu, kaca dan cetakan semen  sedangkan bentuknya juga bervariasi ada yang membentuk garis belah ketupat, bentuk garis salib saling menyilang serta ada yang lingkaran ditengahnya.

Atap
Atap adalah komponen-komponen yang disusun sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi sebagai pelindung dan secara struktural dapat menerima dan meneruskan beban yang mengenainya. Atap terdiri dari rangka atap dan penutup atap: adapun rangka atap terdiri dari kasau, reng serta gording dan jurai sebagai pembentuk atap, sedangkan penutup atap sangat beragam mulai dari bahan logam buatan pabrik sampai bahan kayu sirap dan genteng dari bahan tanah liat atau keramik. Bentuk atap bangunan induk adalah atap limas pada bangunan induk sedangkan pada bangunan samping berupa atap pelana. Adapun bahan atap adalah genteng tanah berbentuk huruf ”S”

2.   Bangunan Penunjang
Bangunan penunjang merupakan bangunan yang terdapat di belakang sisi Barat dan berfungsi sebagai kamar tidur, dapur, gudang, dan KM/WC. Termasuk di dalamnya adalah menara air, sumur, dan rumah mesin.  Bangunan  berukuran 3 x x 22,50 meter. Sedangkan ruangan yang paling ujung dan tidak lurus dengan ruangan lainnya berukurun 3,50 x 4,85 meter. Bangunan memiliki delapan ruang terdiri dari  1 buah untuk kamar tidur, dapur dan  gudang,  2 buah kamar mandi,  2 buah WC, serta 1 buah kamar cuci.
Kebutuhan air untuk keperluan penghuni Wisma Ranggam didapatkan dari air yang terdapat di dalam sumur dengan kedalaman sekitar 5 meter. Kondisinya sekarang bagian bibir sumur yang terbuat dari beton berdiameter 2,50 meter terbuat dari pasangan bata yang tebalnya 45 cm dan tinggi 80 cm dalam posisi  miring.   Sedangkan untuk menampung air berupa kotak terbuat dari besi yang didukung dengan kerangka penyangga dari 4 buah pipa besi berdiameter 25 cm, jarak tiang 4,5 meter, dan tinggi menara 5 meter.  Namun kondisinya sekarang hanya tersisa  bagian fondasi tiang berjumlah empat buah berukuran 2 x 2 meter.
Sementara itu untuk kebutuhan listrik dihasilkan dari mesin yang ditempatkan di rumah mesin. Lokasinya di bagian belakang agak jauh dari menara air dan sumur. Ruang mesin digunakan untuk menempatkan diesel sebagai alat untuk menghidupkan listrik.  Ruang mesin berdenah bujursangkar berukuran 2,5 x 2,5 meter dan tingginya 1,5 meter. Bangunan seluruhnya terbuat dari pasangan bata dan perekat semen.







-->
Share:

Kubur Tempayan di Daerah Sungai Bahar : Temuan Terbaru


Pendahuluan
Temuan arkeologis seringkali ditemukan secara tidak sengaja oleh penduduk pada saat menggali tanah.  Dalam hal ini mereka sangat berjasa dalam upaya mengungkap kehidupan manusia. Namun akibat penggalian menyebabkan  temuan menjadi rusak. Ditambah pula  dengan kondisi temuan yang telah rapuh setelah terpendam di dalam tanah selama ribuan tahun.  Hal itu terjadi juga pada penemuan kubur tempayan  di Desa Panca Mulya. Penduduk yang sedang menggali tanah untuk menimbun bahu jalan yang selesai diperkeras dengan coran semen menemukan tempayan. Syukurlah penggalian dihentikan setelah mereka menyadari temuan adalah tinggalan sejarah.  
Peninjauan temuan kubur tempayan mendapatkan apresiasi yang baik dari warga yang ingin mengetahui lebih lanjut dari temuan tersebut. Di lokasi galian masih terdapat dua tempayan yang berbeda ukuran dengan kondisi bagian atas telah pecah. Sementara yang telah diangkat warga berupa dua tempayan yang juga berbeda ukuran dengan kondisi tempayan yang terkecil masih memperlihatkan bentuknya karena hanya pecah menjadi tiga bagian dan satu lainnya pecah dengan satu sisi yang berukuran besar dan sisi lainnya pecah berkeping-keping. Selain tempayan juga ditemukan alat yang terbuat dari logam diduga besi berbentuk senjata golok atau parang. Temuan lainnya pecahan batu yang tidak diketahui bentuknya.
Penemuan kubur tempayan tersebut merupakan data yang sangat penting dalam rangka merangkai sejarah kuno Jambi. Temuan kubur tempayan menambah jumlah situs yang ada di Provinsi Jambi. Berdasarkan lokasinya dibedakan menjadi di dataran rendah dan dataran tinggi. Situs kubur tempayan di dataran rendah adalah Situs Lebak Bandung, Kota Jambi. Sedangkan Situs kubur tempayan di dataran tinggi berada di daerah Serampas dan Kerinci antara lain  Situs Renahkemumu, Situs Muak, Situs Lologedang serta Situs Siulaktenang di Kabupaten Kerinci. Situs Penguburan mendapatkan tempat yang penting dalam penelitian arkeologi karena banyak aspek yang mungkin dapat diungkapkan seperti teknologi, ekonomi, social, dan kepercayaan. Sehubungan dengan temuan kubur tempayan di Desa Panca Mulya yang selanjutnya disebut Situs Kubur Tempayan Sungai Bahar perlu direncanakan langkah-langkah pelestariannya segera agar pada saat dilakukan penelitian nantinya benda-benda temuan tidak hilang dan lokasinya tidak rusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Letak dan Lingkungan
Lokasi temuan secara administrasi terletak di Desa Panca Mulya, Kecamatan Sungai Bahar, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi.  Sedangkan secara astronomis terletak di 02o12’06.4” LU dan 101o 32’36.8 BT dengan ketinggian 21 meter di atas permukaan air laut (mdpl).
Temuan berada di pemukiman yang merupakan daerah transmigrasi yang umumnya berasal dari Pulau Jawa. Adapun pemilik tanah lokasi adalah Bapak Bustami Nasution yang lebih sering tinggal di Kota Jambi. Luas tanahnya memanjang orientasi Barat-Timur berukuran 20 x 100 meter. Rumah Bapak Bustami berupa rumah dengan dinding kayu dan beratap seng. Rumah ini dibangun dengan terlebih dahulu meratakan tanah yang mempunyai kemiringan ke Utara. Perataan tanah tersebut menghasilkan tebing di sebelah Selatan dan Barat.
Lokasi  dapat ditempuh dari Kota Jambi melalui dua pilihan, yaitu melalui Simpang Pete atau Simpang Gudang.  Perjalanan melalui Simpang Pete dari Kota Jambi dengan mengarah ke Daerah Tempino di mana di sana terdapat simpang tiga yang menuju Kota Palembang atau Kota Muarabulian. Pilih yang arah Kota Muara Bulian dan akan bertemu dengan Simpang Pete di sebelah kiri jalan yang merupakan jalan  pertamina dimana terdapat sumur-sumur minyak. Kondisi jalannya berupa tanah yang keras pada saat musim kemarau dan licin pada musim hujan.  Di sepanjang jalan akan bertemu dengan banyak persimpangan menuju sumur minyak, maka pilihlah jalan yang dilalui warga menuju desa ditandai oleh jalan beraspal. Selama perjalanan akan menemukan jalan dengan kondisi tidak beraspal. Informasi yang didapat kemudian setelah berada di lokasi temuan kubur tempayan bahwa jalan tersebut merupakan jalan yang tidak lagi dilalui banyak orang karena telah ada jalan yang lebih mulus dari arah jalan lintas Sumatera Jambi-Palembang.  
Pilihan kedua untuk menuju lokasi adalah melalui jalan lintas Sumatera hingga  bertemu dengan Simpang Gudang di Desa Suka Damai. Lokasi jalan berada di sebelah kanan jalan. Jalannya  beraspal dengan hanya sedikit kerusakan hingga Simpang Nyogan. Pilih jalan ke kiri yang menuju Sungai Bahar hingga bertemu dengan Kantor Kepala Desa Berkah. Sekitar 200 meter melewati kantor kepala desa terdapat belokan di sebelah kiri menuju Desa Panca Mulya. Ikuti jalan tersebut dan akan menemui deretan pohon sawit di kanan dan kiri jalan. Setelah sekitar 30 menit akan tiba di Desa Panca Mulya dan bertemu sebuah kolam atau danau belok kiri dan kemudian kembali belok kiri. Selanjutnya akan tiba di RT. 06 Desa Panca Mulya dimana lokasi temuan kubur tempayan berada.
Pengamatan terhadap lingkungannya menunjukkan bahwa lokasi temuan berada di lereng bukit yang diperkirakan mempunyai ketinggian sekitar 5-6 meter. Pada lereng sebelah
Timur telah berdiri rumah-rumah yang beberapa diantaranya dengan meratakan lereng. Bagian lainnya merupakan kebun sawit. Informasi dari masyarakat yang sudah lama tinggal di sana, disebelah Timur bukit yang terdapat jalan membujur Utara-Selatan dan kanan kirinya terdapat rumah pernah terjadi banjir besar hingga ketinggian 1 meter. Ditambahkan pula bahwa daerah itu dahulunya  merupakan sungai. Perubahan lingkungan menjadi perkebunan sawit dan adanya penimbunan untuk pemukiman menjadikan kondisi tanahnya yang tadinya rendah dan berair menjadi tinggi dan kering.

Jenis Temuan
Menurut cerita Bapak Budi Utomo (48 tahun) sebagai Ketua RT 06,  penemuan terjadi pada saat dilakukan penggalian tanah untuk menimbun bahu jalan yang baru dibangun. Penemuan terjadi hari Minggu, tanggal 30 Juni 2019 setelah menggali tebing tanah di tanah milik Bapak Bustami. Tanah milik Bapak Bustami berada dilereng sebelah Timur Laut. Dikarenakan kondisi permukaan tanah yang demikian maka dilakukan perataan tanah sebelum membangun rumah yang terbuat dari dinding kayu dan atap seng. Perataan tanah menghasilkan adanya tebing dibagian Selatan dan Barat. Tebing di sebelah Selatan dengan ketinggian sekitar 2 meter. Pada tebing itulah penduduk yang  bergotong royong menggali tanah untuk menimbun jalan yang baru dibangun menemukan tempayan dan alat dari logam yang diduga besi berupa parang atau golok serta pecahan batu yang tidak diketahui bentuknya semula.
Temuan tersebut hanya diketahui oleh masyarakat dan baru diketahui oleh Staf Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi tiga hari kemudian setelah mendapat kiriman foto  dari Ibu Nina Nurlina yang bertugas sebagai Pendamping Lokal Desa (PLD) di Kabupaten Sarolangun. Beliau pun dapat informasi dari Ibu Nur Irawati yang bertugas sebagai Tenaga Pendamping Lokal Desa  di Kecamatan Sungai Bahar.
Setelah mendapat kiriman foto tentang temuan tempayan dan mengontak kepada Ibu Nur Irawati serta dilanjutkan dengan melaporkan kepada pimpinan maka diperintahkan untuk meninjau lokasi. Setelah menyiapkan peralatan maka dilakukan perjalanan untuk lokasi temuan tempayan. Pada saat perjalanan dilakukan kontak dengan Ibu Nur Irawati untuk memastikan perjalanan tidak salah arah. Setelah waktu selama 2 jam akhirnya terjadi pertemuan di Kantor Kepala Desa Berkah  dan  pembicaraan beberapa menit. Perjalanan menuju lokasi dilanjutkan dengan mengikuti laju kendaraan Ibu Nur Irawati ke Desa Panca Mulya. Setelah Kantor kepala Desa Berkah sekitar 200 meter belok ke kiri dan mengikuti jalan yang beberapa saat melalui perkebunan sawit hingga tiba di kolam/danau dan bertemu dengan Bapak Budi Utomo selaku ketua RT 06 yang menyimpan temuan. Selanjutnya menuju Kantor Kepala Desa Panca Mulya  untuk memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud dan tujuan. Bapak Kepala desa berbaik hati mengantar ke lokasi. Beberapa pegawai kantor desa yang belum ke sana juga ikut pergi.
Lokasi temuan berada tepat di ujung jalan yang baru dibangun terbuat dari coran semen atau di samping rumah yang berada di kiri jalan yang baru dicor. Di depan rumah mengalir sungai kecil yang mengalir ke arah Utara. Dengan berjalan kaki menyeberangi jembatan kayu dan mengarah kesamping rumah tibalah pada sebuah dinding tanah yang hampir 90 derajat dengan ketinggian sekitar 2 meter. Dinding tersebut terbentuk karena dilakukan perataan tanah untuk pendirian sebuah rumah. Tidak tampak adanya tempayan yang masih terkubur. Atas inisiatif penduduk dilakukan penggalian untuk memperlihatkan tempayan yang masih terkubur. Tampaklah dua tempayan dalam kondisi bagian atas telah hilang berjajar Barat-Timur. Kedua tempayan terlihat berbeda ukuran. Posisinya tepat berada di permukaan tanah paling bawah dari tebing tersebut. Pada dinding tanah tidak terlihat adanya lapisan tanah (stratigrafi) yang menandakan tidak pernah terjadi sedimentasi. Pada awalnya diduga tempayan tersebut dikuburkan sedalam 2 meter berdasarkan ketinggian permukaan tanah paling atas. Tetapi setelah diamati ternyata warna tanah hanya menunjukkan satu warna tanah saja, yaitu warna coklat kekuningan. Tidak tampak  bekas galian pada saat proses penguburan dahulunya. Diperkirakan sebelumnya tempayan tersebut tidak terkubur dalam, tetapi dengan terjadi proses erosi maka kemudian tertimbun. Diperkuat dengan posisi tempayan yang berada di lereng yang miring ke Utara. Penelitian lebih lanjut diharapkan akan mengungkap hal tersebut. Dengan kondisi temuan yang berada di dasar tebing setinggi 2 meter jelas akan menyulitkan ekskavasi (excavation) guna menemukan tempayan yang mengarah ke Selatan dari tebing.
Setelah melakukan pengamatan terhadap temuan dan lingkungannya dilanjutkan dengan temuan lepas yang disimpan ketua RT. 06. Dikarenakan sebelumnya telah mengetahui kedatangan tim, maka temuan telah ditempatkan dipinggir jalan berupa pecahan tempayan, alat dari logam yang diduga besi di dalam ember, dan alat batu. Terhadap temuan dilakukan pendokumentasian dan pengukuran. Terakhir disampaikan kepada Ketua RT yang menyimpannya agar menjaganya sebelum dilakukan serah terima kepada Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi.

a.   Tempayan
Pecahan tempayan berasal dari dua buah tempayan yang berbeda ukuran. Pecahan pertama telah pecah menjadi tiga bagian berukuran diameter dasar 40 cm, diameter atas 35 cm, dan tingginya 27 cm. tempayan kedua dalam kondisi pecah berkeping-keping berjumlah 59 keping. Salah satu pecahan masih menyisakan sekitar separuh dari atas hingga bawah. Tempayan mempunyai ketebalan sekitar 1 cm. Kondisinya sangat rapuh sehingga memerlukan kehati-hatian pada saat memegangnya.

b.  Benda Besi
Temuan lainnya diduga benda terbuat dari besi berupa senjata parang atau golok yang agak utuh dan potongan berjumlah tujuh buah. Benda-Benda tersebut dalam kondisi dilapisi oleh tanah yang telah mengeras. Penduduk yang menemukan pernah berupaya untuk membersihkan dengan memberinya minyak tanah. Benda pertama yang terlihat masih utuh  panjangnya 38 cm, lebar ujungnya 5 cm, dan lebar pangkalnya 2,5 cm. Benda kedua panjangnya 21 cm, lebar ujungnya 3 cm, dan lebar pangkalnya 2 cm. Benda ketiga panjangnya 19 cm, lebar ujungnya 5 cm, dan lebar pangkalnya 3 cm. Benda keempat panjangnya 15 cm, lebar ujungnya 25 cm, dan lebar pangkalnya 2 cm. Benda kelima panjangnya 15 cm, lebar ujung dan pangkalnya 5 cm. benda keenam panjangnya 14 cm dan ujung pangkalnya 8 cm. Benda ketujuh diperkirakan patahan dengan Panjang 5 cm, lebar ujung 2 cm, dan lebar pangkalnya 1,5 cm. A

c.   Alat Batu
Alat yang terbuat dari batu tidak diketahui lagi bentuknya. Tiga buah yang ada merupakan patahan karena masing-masing mempunyai satu sisi bekas patahan. Dua buah batu panjang 6 cm dan satu buah batu panjangnya 4 cm.

Kubur Tempayan di Jambi
Provinsi Jambi yang secara geografis mempunyai bentang alam berupa  dataran rendah  dan dataran tinggi  mempunyai peninggalan arkeologi yang cukup banyak, antara lain dari masa Prasejarah. Masa prasejarah untuk menyebut masa sebelum dikenalnya tulisan.  JC Thomson (1816)  menggolongkan ke dalam Zaman Batu (Stone Age) dan Zaman Perunggu dan Besi (Bronze Iron Age). Zaman Batu terdiri dari Masa Paleolitik, Mesolitik, dan Neolitik.  Sedangkan menurut RP. Soejono terdiri dari Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan Tingkat Rendah, Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan Tingkat Lanjut,  Masa Bercocok Tanam, dan Masa Perundagian
Daerah dataran tinggi Serampas dan Kerinci  telah menarik minat peneliti baik dari dalam maupun luar negeri dalam rangka mengungkap kehidupan manusia lampau.  Pada tahun 1939 Van der Hoop berhasil mengumpulkan temuan permukaan berupa alat serpih obsidian di sekitar Danau Gadang Estate di dekat Danau Kerinci.  Peneliti yang bernama Van Heekeren menyatakan alat serpih yang ditemukan berukuran lebih besar daripada alat serpih dari gua-gua di Merangin. Sedangkan menurut Soejono, alat serpih tersebut termasuk mikrolit, tetapi bentuknya tidak geometris seperti alat mikrolit pada umumnya dan berasal dari masa berburu tingkat lanjut. Hasil ekskavasi Bagyo Prasetyo (1994) di Bukit Talang Pulai dan Dominik Bonatz (2003) di Pondok menemukan banyak  tinggalan yang berupa pecahan tembikar. 
Temuan arkeologis yang khas dan tidak terdapat di daerah di Indonesia adalah batu besar yang berbentuk silinder yang dinamakan Batu Silindrik. Penduduk lokal menyebutnya dengan bermacam sebutan antara lain Batu Larung, Batu Meriam, Batu Bedil, Batu Patah, dan Batu Gong. Batu yang demikian sampai saat ini telah diketahui berjumlah 20 buah dengan 8 buah  diantaranya terdapat di Kabupaten Kerinci, yaitu di Desa Kumun Mudik, Pulau Sangkar, Pondok, Muak, Bukit Talang Pulai, Lolo Gedang, Lolo Kecil, dan Lempur Mudik. Penelitian dalam rangka mengungkap keberadaan batu larung telah berhasil pula menemukan puluhan kubur tempayan di Desa Renah Kemumu. Hasil analisis C-14 terhadap sample arang yang ditemukan di dalam tempayan menghasilkan pertanggalan 810 ± 120 BP (1020 – 1260 M).
Temuan kubur tempayan di Desa Panca Mulya  pada hari Minggu, 30 Juni 2019 menambah daftar situs  kubur tempayan di Provinsi Jambi.  Situs kubur tempayan yang pernah dilakukan penelitian, yaitu Situs Lebakbandung di Kota Jambi pada tahun 1996, 1997, dan 1999, Situs Renahkemumu  tahun 2005, Situs Muak tahun 2007, Situs Lologedang tahun 2008 serta Situs Siulaktenang tahun 2014 di Kabupaten Kerinci. Hampir sebagian besar situs  tidak terdapat tulang manusia dan mengandung temuan bekal kubur.   Hal itu kemungkinan disebabkan tulangnya telah terurai menjadi tanah. Penemuan tulang manusia pada umumnya ditemukan pada lingkungan tanah yang berpasir seperti di Situs Muarabetung dan Sentang di Sumatera Selatan. Sementara di lingkungan tanah lempung seperti di Kunduran, Renah Kemumu, dan Lolo Gedang lebih cepat terurai. Pada kasus temuan yang terbaru ini bekal kubur berupa benda yang diduga dari besi berupa parang atau golok. Bekal kubur merupakan yang benda yang dimiliki oleh si mayat selama hidupnya atau benda-benda untuk keperluan si mayat di alam berikutnya. 
Penemuan Kubur tempayan di Desa Panca Mulya yang jauh dari pesisir menandakan bahwa pedalaman Jambi bukan merupakan tanah yang tidak berpenghuni. Masyarakat hidup di lingkungan yang berupa hutan dengan berbagai jenis bintang yang hidup didalamnya  dan hulu  sungai yang menyediakan air dan sumber makanan berupa ikan dan kerang air tawar. Berburu, menangkap ikan, dan bercocok tanam menjadi aktivitas untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Pada saat terjadi kematian dikuburkan dengan  menggunakan tempayan.  Diperkirakan kehidupan mereka sebelum Agama Budha yang menyebar di Sumatera dimulai  abad 7 Masehi atau masa dimana masyarakat sepanjang aliran sungai hingga pesisir pantai telah menganut Agama Budha, karena pemukiman mereka dipedalaman, maka belum tersentuh oleh ajaran Budha. 
-->
Penguburan masa Prasejarah di Indonesia terdiri dari penguburan secara langsung (primer) dan tidak langsung (sekunder). Proses penguburannya dilakukan dengan menggunakan wadah atau tanpa wadah. Situs kubur tempayan merupakan sebidang lahan yang digunakan sebagai lokasi penguburan dan memiliki ciri tempayan sebagai wadah untuk menempatkan mayat. Jenis gerabah berbentuk tempayan memiliki rongga dengan daya muat cukup besar untuk menyimpan bahan makanan dan minuman, bahkan di beberapa situs arkeologi sisa tulang manusia atau rangka dalam posisi jongkok dimasukkan ke dalam tempayan. Penguburan menggunakan tempayan dimaksudkan agar arwah orang yang meninggal mempunyai tempat tinggal yang tetap setelah berada di alam arwah dan tidak mengganggu orang masih hidup.  
Situs kubur merupakan bagian dari suatu daerah kegiatan (activity area) tempat dilakukan penguburan berulang dan membentuk suatu struktur kegiatan yag menggambarkan suatu unit sosial dari kelompok sosial  tertentu dalam suatu sistim pemukiman. Dalam hal ini data kubur secara keseluruhan dapat dianggap mewakili suatu kelompok sosial tertentu. Pada dasarnya penguburan yang dilakukan pada tempat tertentu merupakan kegiatan yang tidak hanya sekedar menempatkan dan menimbun mayat di dalam tanah, dalam kegiatan penguburan tersebut juga terkandung nilai-nilai serta simbol-simbol tertentu yang biasanya akan mencerminkan corak budaya yang ada pada saat itu.
Kubur tempayan di Indonesia diperkirakan berlangsung dari masa neolitik sampai awal masehi. Situs Kubur tempayan ditemukan antara lain di Jawa, Sumatera, Bali dan Nusa Tenggara Timur, yaitu dan Anyer Lor, Pelawangan, Muarabetung, Kunduran, Gilimanuk, Bon Dalem, Melolo, Lewoleba, Lambanapu, dan Waibau. Sebagian besar kubur tempayan berisikan sisa manusia dari berbagai usia dengan jenis kelamin pria dan wanita. Biasanya yang berusia muda dalam tempayan dikuburkan secara primer dan sekunder. Sementara hampir sebagian besar usia dewasa dikuburkan secara sekunder dalam tempayan. Kubur tempayan ditemukan juga di Serawak, Filipina, dan Vietnam. Demikian luasnya sebaran kubur tempayan, maka penelitian kubur tempayan mempunyai nilai strategis untuk mengungkapkan proses sebaran dan perkembangan budaya penutur Austronesia.

Penutup
Temuan kubur tempayan di Desa Panca Mulya, Kecamatan Sungai Bahar, Kabupaten Muaro Jambi terjadi pada saat dilakukan penggalian tanah dalam rangka menimbun bahu jalan yang selesai dibangun. Temuan berupa empat tampayan yang dua tempayan masih terpendam dalam tanah dan dua tempayan yang telah diangkat dalam kondisi pecah, alat yang diduga terbuat dari besi berupa parang atau golok, serta alat batu. Lokasinya berada di tanah milik Bapak Bustami Nasution yang berukuran 20 x 100 meter. Tanah milik Bapak Bustami ini berada permukaan tanah yang miring Utara dan telah diratakan hingga terbentuk tebing yang tingginya sekitar 2 meter. Pada dasar tebing itulah ditemukan kubur tempayan.
Hasil peninjauan menunjukkan bahwa diperkirakan dahulunya kubur tempayan tersebut tidak terpendam sedalam sekitar 2 meter. Proses alam yang berupa erosi diduga menjadi penyebab tertimbunnya. Dugaan itu berdasarkan lapisan tanah (stratigrafi) yang tidak menunjukkan adanya penggalian untuk menguburkan tempayan sedalam 2 meter serta keberadaan tempayan yang berada di lereng bukti yang memungkin terjadinya penimbunan akibat erosi. Posisi temuan yang berada tepat di dasar tebing akan cukup merepotkan dilakukannya ekskavasi yang menggunakan sistem kotak. Penggalian ke arah Selatan untuk menemukan tempayan lainnya akan mengharuskan penggalian sedalam 2 meter agar sama dalamnya dengan tempayan yang sebelumnya ditemukan.
Berdasarkan temuan kubur tempayan tersebut, maka dapat diketahui bahwa Desa Panca Mulya telah dihuni ribuan tahun yang lalu dari masa Neolitikum. Manusia  yang hidup pada masa itu, baik yang tinggal di dataran rendah maupun dataran tinggi di Situs Lebakbandung, Situs Remahkemumu, Situs Muak, Situs Lologedang, dan Situs Siulaktenang menjalankan sistem penguburannya dengan menggunakan tempayan.
Dalam rangka pelestarian terhadap temuan benda-benda dan lokasinya, maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1.   Benda-benda yang ditemukan berupa pecahan tempayan, alat yang diduga terbuat dari besi, dan alat dari batu diupayakan untuk dilakukan serah terima kepada pemerintah (BPCB Jambi) untuk perawatan dan pengamanannya agar tidak hilang dan rusak lebih parah lagi. Acara serah terima dilakukan dengan disaksikan oleh Kepala Desa dan masyarakat setempat. Perlu juga dilakukan selamatan (doa Bersama) untuk menghilangkan kekhawatiran dari warga akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
2. Kegiatan penelitian arkeologi harus segera dilakukan untuk mengungkap lebih jauh mengenai keberadaan kubur tempayan di Desa Panca Mulya mengingat sangat pentingnya data yang terkandung di dalamnya dan terutama dalam rangka upaya pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatannya.


Daftar Pustaka
Aziz, Fadhila Arifin, 1998, “Karakteristik da Sebaran Situs Kubur Tempayan di Asia Tenggara Daratan dan Kepulauan, Kawasan Asia Tenggara”, Berkala Arkeologi Tahun XVIII Edisi No. 2/November 1998

Marhaeni SB., Tri,  2008, Laporan Penelitian Kubur Tempayan Di Situs Lolo Gedang, Kerinci, Jambi, Balai Arkeologi Palembang

Marhaeni SB., Tri,  2011, Laporan Penelitian Arkeologi Kubur Tempayan Di Desa Muak, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, Balai Arkeologi Palembang

Santoso Soegondo, 1996, “Fungsi dan Peranan Gerabah Dalam Penguburan Prasejarah”, Pertemuan Ilmiah Arkeologi VII, Cipanas, 12-16 Maret 1996

Suharno, Ignatius, 1997, Ekskavasi Penyelamatan Temuan Tempayan Kubur Situs Lebakbandung, Kecamatan Jelutung, Kotamadia Jambi, Provinsi Jambi, Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Jambi, Sumatera Selatan, dan Bengkulu

Sunarto, Edy, 1996, Hasil Ekskavasi Penyelamatan Situs Lebakbandung, Kecamatan Jelutung, Kotamadia Jambi, Provinsi Jambi, Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Jambi, Sumatera Selatan, dan Bengkulu

Sunarto, Edy, 1997, Ekskavasi Penyelamatan Temuan Tempayan Kubur Situs Lebakbandung, Kecamatan Jelutung, Kotamadia Jambi, Provinsi Jambi, Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Jambi, Sumatera Selatan, dan Bengkulu


















-->
Share:

CANDI JEPARA : Candi Terbuat dari Batu di Sumatera


Pendahuluan
Candi merupakan hasil  kebudayaan  berupa bangunan yang berasal dari masa Hindu-Budha di Indonesia. Sebarannya berada di Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan. Salah satu candi yang ditemukan di Sumatera adalah Candi Jepara.  Lokasinya di Desa Jepara, Kecamatan Buay Pematang Ribu Ranau Tengah, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Provinsi Sumatera Selatan. Masyarakat setempat mengenalnya sebagai Batu Kebayan. Candi Jepara sampai sekarang merupakan satu-satunya candi yang terbuat dari batu di Provinsi Sumatera Selatan, bahkan Pulau Sumatera.  Candi-candi lain umumnya terbuat dari bata.
Candi Jepara sejak dilaporkan pada tahun 1885 dalam kondisi runtuh. Batu-batu berjumlah satu hingga dua lapis masih dalam posisinya. Sementara batu lainnya tergeletak tidak jauh dari lokasinya semula.  Kegiatan dalam rangka penelitian dan pelestarian telah banyak menghasilkan laporan dan tulisan. Pelestarian Candi Jepara telah dilakukan semenjak sebelum berdirinya Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi yang sebelumnya bernama Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (SPSP). Pada saat itu pengangkataan juru pelihara menjadi tanggungjawab Bidang Museum dan Purbakala (Muskala) Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Selatan. Sejak tahun 1990 menjadi tanggung jawab SPSP Jambi.  Upaya untuk pemugarannya telah dimulai dengan kegiatan Studi Kelayakan pada tahun 2003. Namun langkah selanjutnya yang berupa kegiatan Studi Teknis baru dilakukan pada tahun 2011.  Pemugaran Candi Jepara menjadi tertunda dikarenakan adanya pemugaran di Kompleks Percandian Muarajambi dan masih perlunya dilakukan kajian. Pada tahun ini dapat dilakukan kajian teknis pemugaran dengan mengikutsertakan dua tenaga berpengalaman di bidang pemugaran candi batu yang berasal dari BPCB Jawa Tengah. Diharapkan dengan berakhirnya kajian pemugaran ini, maka data arkologis dan teknis yang terkumpul dapat memantapkan diadakannya pemugaran. Dengan demikian harapan masyarakat dan pemerintah daerah untuk bisa memanfaatkannya sebagai objek budaya dan wisata bersama Danau Ranau dapat tercapai.
-->

2.  Letak dan Lingkungan
Candi Jepara secara administratif terletak di Lokasinya di Desa Jepara, Kecamatan Buay Pematang Ribu Ranau Tengah, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Provinsi Sumatera Selatan. Secara astronomis berada di 04o49’40,3” Lintang Selatan dan 103o59’12,7” Bujur Timur.
Candi Jepara dapat ditempuh dengan jalan darat dari Palembang menuju Kota Muaradua yang merupakan kota Kabupaten OKU Selatan. Perjalanan  tim melalui Kota Prabumulih mendapati jalan yang tidak seluruhnya mulus. Sementara perjalanan menuju Kota Baturaja mendapati jalan yang rusak dibeberapa tempat. Kerusakan yang lebih parah terjadi pada perjalanan dari Kota Martapura ke Kota Muaradua. Pada saat kegiatan ini dilakukan memang jalan-jalan di Provinsi Sumatera Selatan banyak yang mengalami kerusakan. Kemungkinan hal itu disebabkan sebelumnya telah dilaksanakan perhelatan besar Asian Games XVIII tahun 2018 yang menyedot anggaran cukup besar.
Kabupaten OKU Selatan dengan Ibukotanya Muaradua merupakan pemekaran dari Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) yang diresmikan pada 16 Januari 2004. Lokasinya berada di ujung Barat Daya berbatasan dengan  Provinsi Lampung. Kondisinya jalannya nampaknya belum mendapat perhatian dari pemerintah Provinsi. Jalan yang menghubungkan Muaradua, baik dengan Baturaja maupun Martapura rusak dan sempit. Berbeda halnya dengan jalan lintas tengah yang menghubungkan Baturaja dan Martapura cukup mulus dan lebar.
Perjalanan  dari Muaradua ke Candi Jepara dengan kondisi jalan yang sempit tetapi dengan kondisi yang lebih baik. Kami menduga hal itu disebabkan jalan tersebut menuju objek wisata Danau Ranau atau Kota Liwa di Provinsi Lampung. Rute menuju Candi Jepara dari Muaradua akan bertemu dengan  Simpang Sender yang merupakan simpang tiga menuju Danau Ranau dan Liwa, Provinsi Lampung. Kedua arah tersebut dapat dipilih untuk sampai ke Candi Jepara. Arah Danau Rinau akan melalui Desa Banding Agung yang berada di tepi danau. Pilih jalan yang menuju ikon Danau Ranau di tepian danau dan lanjutkan menyusuri pinggiran danau hingga tiba simpang Desa Jepara. Namun sebelum itu akan melalui Pantai Pelangi yang berpasir dan air bening dari Danau Ranau. Suasananya cukup indah dengan pemandangan Gunung Seminung di depannya. Jalan melalui tepian danau ini berupa jalanan yang sempit dengan kondisi datar dan menanjak hingga memerlukan kehati-hatian.
Rute yang menuju Liwa di Provinsi Lampung lebih nyaman karena kondisi jalan yang lebar dan mulus. Namun pemandangannya tidak seindah melalui tepian Danau Ranau. Setelah melalui Simpang Sender akan bertemu dengan Desa Hangkusa dimana di sebelah kanan jalan terdapat simpang menuju Desa Jepara. Perjalanan lanjut hingga menemukan Kantor Kepala Desa dan terus melalui jalan di depannya. Ada baiknya juga apabila bertanya kepada penduduk arah menuju Batu Kebayan. Bagi yang merencanakan menginap setelah kunjungan ke Candi Jepara, bisa memilih penginapan  sekitar Danau Ranau  di Desa Banding Agung agar dapat  menikmati pemandangan alam yang telah disebutkan di atas.
Candi Jepara berada di tengah-tengah kebun kopi. Tanahnya telah dibebaskan pada tahun 2011 oleh BPCB Jambi dengan luas 1.820 m2 dan empat tahun kemudian disertifikat dengan Nomor 01 tertanggal 22 April 2015. Namun kondisinya tidak mencerminkan luas yang seperti tercantum di sertifikat. Juru pelihara hanya memelihara lahan sekitar 140 m2 termasuk jalan setapak yang lebarnya sekitar 2 meter. Juru pelihara memberi tanaman hias dari jalan masuk hingga sekelilingi candi. Sementara sekitarnya berupa tanaman kopi dan abasia.
Lokasinya cukup jauh dari pemukiman, tetapi pada saat kegiatan telah ada dua rumah yang dekat candi. Rumah yang paling dekat dengan candi adalah rumah juru pelihara yang belum selesai pembangunannya.  Kebutuhan akan rumah hunian baru akan memunculkan rumah-rumah baru di sekitar candi. Apalagi jalan yang melintas di depan candi menuju daerah wisata Danau Ranau. Hal itu tentu saja menimbulkan kekhawatiran akan terhimpitnya candi oleh rumah penduduk.

3.  Riwayat Penelitian dan Pelestarian
Candi Jepara pertama kali diketahui dari laporan G. A. Schouten  tahun 1885 yang dimuat  dalam  Notulen Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenchappan (NBG). Dilaporkan candi yang denahnya berukuran panjang 9,6 meter dan lebar 8,1 meter. Van der Hop di dalam buku Megalithic Remains in South Sumatera tahun 1932 menulis tentang adanya sebuah candi bercorak Hindu dan sebuah lumpang batu berukuran Panjang 70 cm dan lebar 50 di Desa Jepara, Kecamatan Banding Agung. Sementara F.M. Schnitger pada tahun 1935 menulis di dalam buku The Archaeology Hindoo of Sumatera bahwa di sebelah Timur bangunan ditemukan undakan yang diduga adalah kaki candi. Tulisan di dalam Oudheidkundige Verslag (OV) tahun 1941 menyebut tentang candi batu yang letaknya tidak jauh dari danau.
Setelah masa kemerdekaan, Soekmono pada tahun 1954 melakukan survei dan melaporkan temuan pelipit bangunan berupa setengah bulat dan sisi genta seperti pelipit candi di Jawa Tengah. Pada tahun 1984 Pusat Penelitian Arkeologi Nasional melakukan peninjauan dan menemukan 30 batu berpahat dan berpelipit di tengah kebun kopi. Penelitian pada tahun 1993 melakukan penelitian bidang arkeometri dan menemukan banyak batu candi berupa antefik dan batu berpahat untuk pembuatan jalan. Hasil ekskavasi menyimpulkan candi yang belum selesai berdasarkan adanya goresan-goresan lengkung dibagian pintu masuk yang masih berupa rancangan pola. Candi Jepara diduga berlanggam Jawa Tengah abad 9-10 Masehi.
Pada tahun-tahun berikutnya setelah berdirinya Unit Pelaksana Teknis  penelitian dan pelestarian di wilayah Sumatera bagian Selatan, maka penelitian dan pelestarian lebih intensif lagi. Balai Arkeologi Palembang pada tahun 1996 melakukan survei terhadap situs-situs arkeologi di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) dan menyimpulkan bahwa candi semasa dengan Prasasti Bawang atau Hujung Langit yang berangka tahun 919 Saka (997 Masehi). Pada tahun 1999 Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jambi  melakukan ekskavasi dan menyimpulkan bahwa candi berukuran 8 x 9 meter dan  tidak ada komponen bangunan lainnya berupa candi perwara atau pagar keliling.
Dalam rangka pemugarannya telah dilakukan Studi kelayakan pada tahun 2003 melalui Proyek Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jambi. Pada tahun 2011 dilakukan Studi Teknis melalui serangkaian kegiatan ekskavasi, susunan percobaan, dan diskusi dengan Pemugar berpengalaman dari BPCB Jawa Tengah bernama Bapak Sudarno. Namun data yang terkumpul belum mencukupi sehingga perlu dilakukan kegiatan lanjutan. Oleh sebab itu, pada tahun ini dilakukan kegiatan Kajian Teknis Pemugaran Candi Jepara guna melengkapi data arkeologis dan teknis yang dapat digunakan untuk melakukan rekonstruksi bangunan  dan Rencana Anggaran Biaya (RAB).

4.  Hasil Survei dan Ekskavasi
a.   Survei
Candi Jepara yang terletak di sebelah Barat Desa Jepara berada di tengah kebun kopi. Situasinya berbeda dengan kondisi saat dilakukan Studi Teknis dimana lahannya masih terbuka hingga pandangannya lebih luas. Namun memang terasa panas karena tidak adanya pohon yang bertajuk tinggi. Kondisi sekarang dikarenakan adanya pemanfaatan lahan untuk tanaman kopi dan abasia.  Disarankan agar tanaman-tanamaan itu dikurangi untuk memberi ruang pandang yang lebih baik. Pada saat dilakukan pemugaran nanti lahannya akan digunakan penempatan batu-batu yang dibongkar dan dikonservasi serta pendirian bangunan kerja (werkeet).
Lokasi Candi Jepara masih berada jauh dari pemukiman penduduk, tetapi telah muncul rumah baru di sebelah Timur candi. Bukan tidak mungkin kedepannya akan lebih banyak lagi rumah-rumah baru di sekitar candi karena adanya jalan yang menuju Danau Ranau. Kondisi yang demikian harus segera ditindak lanjuti dengan perluasan lahan yang ideal untuk zona inti, zona penyangga, dan zona pengembangan.
Survei yang dilakukan berdasarkan batas tanah yang telah dibebaskan BPCB Jambi seluas 1.820 m2 menunjukkan permukaan tanah yang relatif datar. Namun di sisi Utara terdapat permukaan tanah yang miring ke arah Utara. Pada jarak 9,10 meter  ditemukan sebaran batu-batu bulat dengan orientasi Barat-Timur atau sejajar candi yang diperkirakan berfungsi sebagai penahan tanah dari erosi karena  pada jarak sekitar 10 meter berikutnya kemiringan permukaan tanahnya semakin tajam. Sementara di sebelah Timur yang berjarak 24,80 meter terdapat gundukan tanah. Menurut informasi gundukan pernah di ekskavasi dan tidak ditemukan struktur bangunan.
Survei yang dilakukan dengan radius sekitar 100 meter dari candi menemukan parit selebar 6 meter dan sumber mata air berbentuk kolam dengan lebar sekitar 9 meter yang sekitarnya terdapat batu-batu pasiran dengan ukuran yang bervariasi di sebelah Utara.

b.  Ekskavasi
Ekskavasi pada runtuhan Candi Jepara bertujuan untuk melengkapi data hasil ekskavasi yang pernah dilakukan, baik melalui kegiatan ekskavasi tahun 1999, studi kelayakan tahun 2003, dan studi teknis tahun 2011. Ekskavasi tahun 1999 diarahkan pada bangunan candi dan halaman. Ekskavasi dilakukan dengan membuka lima kotak uji, yaitu dua kotak terdapat pada bangunan candi dan tiga kotak di halaman. Kotak ekskavasi yang dilakukan pada bangunan adalah JPR-1 dan JPR-2. Kotak JPR-1 di Sudut Barat Laut bertujuan menemukan sudut asli pondasi. Setelah dilakukan penggalian sedalam 14 meter menemukan pondasi hanya satu lapis. Kotak JPR-2 bertujuan untuk membuktikan dan menampakkan struktur di bagian tangga. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar strukturnya telah lepas dan tidak beraturan. Hasil ekskavasi menyimpulkan bahwa candi tidak dilengkapi candi perwara dan pagar keliling. Penelitian Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Jakarta juga tidak menemukannya.
Ekskavasi yang dilakukan dalam kegiatan Studi Kelayakan tahun 2003 menggali lima kotak uji. Kotak uji diberi kode JPR 1 hingga JPR 4.  Kotak JPR 1 terletak di bagian sudut Barat Laut yang diperkirakan sudut bangunan. Pada kedalaman 45 cm merupakan akhir dari bata fondasi. Kotak JPR 2 terletak di sudut bangunan sisi Barat Daya. Penggalian pada hingga kedalaman 52 cm menemukan susunan batu pasiran berwarna putih yang merupakan fondasi. Kotak JPR 3 terletak di sudut Tenggara bangunan. Penggalian hanya sampai kedalaman 50 cm dan dipastikan bahwa batu-batu yang ditemukan merupakan bagian sudut Tenggara. Kotak JPR 4 terletak di sisi Timur struktur tangga. Penggalian hingga kedalaman 45 cm merupakan akhir dari struktur batu. Kotak JPR 5 terletak di sudut Timur Kotak JPR 1 bertujuan untuk mengetahui tingkat kemasifan struktur dan ketebalan dinding candi.  Kotak ini berarti berada di bagian dalam candi sisi Utara. Hasilnya berupa penemuan fragmen kendi tanah liat  berdiameter 20 cm dan tingginya 13,5 cm. Kendi berdiri di landasan dari batu pasiran berbentuk persegi.
Pada kajian teknis pemugaran kali ini,  ekskavasi menggunakan metode grid dimana lahan dibagi menjadi kotak-kotak berukuran 2 x 2 meter. Metode grid ini akan berlanjut digunakan pada saat pemugaran nantinya. Titik nol atau Datum Point (DP) berada di sebelah Barat Daya bangunan ditandai dengan patok kayu. Penamaan grid ke arah Timur diberi huruf A, B, C, dan seterusnya, sementara ke arah Utara diberi angka 1, 2, 3 dan seterusnya. Kode kotak gali akan mempunyai tanda gabungan keduanya yang dimulai dengan hruf kemudian angka, misalnya A1, B3, dan seterusnya. Tehnik penggalian yang dilakukan menggunakan teknik lot. Di dalam  buku Metode Arkeologi disebutkan tehnik lot adalah tehnik menggali yang menggabungkan tehnik lapisan alamiah dan tehnik spit.   
Ekskavasi dilakukan pada enam kotak, yaitu Kotak C3, G6, F7, F8, E9, dan D6. Kotak C3 berada di sudut Barat Daya untuk mengetahui kestabilan fondasi di sana. Kotak G6 berada di Sudut Tenggara dengan tujuan yang sama, Kotak F7 dan F8 bertujuan untuk mengetahui fondasi bagian tangga, Kotak E9 berada di sudut Timur Laut untuk juga untuk mengetahui kestabilan fondasi, dan Kotak D6 untuk mengetahui lapisan tanah dibagian tengah gundukan.

5.  Deskripsi Candi Jepara
Candi Jepara dibangun oleh masyarakat yang mendiami wilayah pedalaman Sumatera. Candi Jepara bersama-sama dengan Candi Tingkip dan Candi Lesung Batu di Kabupaten Musirawas Utara dan Candi Binginjungut di Kabupaten Musi Rawas lokasinya cukup jauh dari pusat kerajaan Sriwijaya yang diperkirakan di Palembang. Kerajaan Sriwijaya berdasarkan temuan arkeologisnya bercorak agama Budha. Namun masyarakatnya tidak hanya beragama Budha tetapi ada juga yang beragama Hindu. Hal itu ditunjukkan dari keberadaan candi di Desa Bumiayu di Kabupaten PALI, arca Ganesha di Kota Palembang dan Sarolangun, Provinsi Jambi serta Arca Wisnu di Kota Kapur, Kabupaten Bangka. Candi Jepara belum dapat dipastikan latar belakang agamanya karena tidak ditemukannya unsur-unsur yang terdapat di kedua agama tersebut seperti arca Agama Hindu atau Budha dan unsur-unsur bangunan seperti ratna atau stupa dan relief cerita.
Informasi mengenai Candi Jepara berdasarkan ciri-ciri arsitekturnya mempunyai persamaan dengan candi-candi yang berasal dari periode 7-10 Masehi. Temuan arkeologis dari masa Hindu Budha yang terdekat adalah Prasasti Bawang atau Prasasti Hujung Langit di sebelah Tenggara Danau Ranau, tepatnya di Desa Hanakau, Kecamatan Balik Bukit, Kabupaten Lampung Barat. Prasasti mempunyai tulisan dalam 18 baris dalam Bahasa Jawa Kuno. Isinya mengenai Ekspedisi ke Sumatera pada masa Raja Dharmawangsa dari Pulau Jawa pada abad 10 Masehi. Sementara berdasarkan kedekatannya dengan daerah Lampung sekarang, maka diduga penyebar agama yang merubah kepercayaan masyarakat pendiri candi berasal dari sana. 
Candi Jepara yang terbuat dari batu merupakan candi batu satu-satunya di Sumatera. Batu yang digunakan diperkirakan jenis batu tufa. Tufa adalah jenis batuan piroklastik yang mengandung debu vulkanik yang dikeluarkan selama letusan gunung berapi. Candi berada di daerah dataran tinggi Sumatera Selatan atau tepatnya dekat dengan Danau Ranau dan Gunung Seminung. Danau Ranau merupakan danau terluas kedua setelah Danau Toba di Pulau Sumatera. Luasnya mencapai 125,9 km2. Letaknya di ketinggian 54 meter di atas permukaan air laut.  Danau terbentuk dari gempa tektonik dan letusan Gunung purba sekitar 55 ribu tahun yang lalu. Letusan dahsyat membentuk kaldera dan dapur magma yang aktif melahirkan Gunung Seminung. Gunung Seminung merupakan gunung berapi yang tingginya 1861 meter. Secara geologis dikategorikan sebagai gunung api muda. Tentu saja daerah ini mempunyai sumber batu alam. Dengan demikian tidak mengherankan bahwa masyarakat pendukungnya saat itu membangun candi dari batu.
Candi ditemukan kembali dalam keadaan runtuh. Keruntuhan candi diperkirakan karena faktor alam dan manusia. Faktor alam disebabkan dari gempa, baik vulkanik maupun tektonik. Gempa vulkanik disebabkan oleh letusan Gunung Seminung dan gempa tektonik akibat tubrukan lempeng di sebelah Barat Pulau Sumatera. Pulau Sumatera terletak  pada batas lempeng konvergen antara lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia. Secara historis, gempa besar tercatat pernah terjadi pada tahun 1833, 1861, 2004, 2005, dan 2007. Bisa dibayangkan sebuah gempa besar telah mengakibatkan ketakutan, korban jiwa,  dan menghancurkan bangunan-bangunan termasuk candi. Sementara kerusakan akibat manusia terjadi pada masa kemudian dimana masyarakat tidak tahu tentang candi hanya melihat bahwa banyak batu-batu yang dapat dimanfaatkan untuk fondasi rumah atau jalan. Kerusakan akibat manusia ini terlihat dari sedikitnya batu-batu candi di sisi Selatan yang berada dekat jalan. Berbeda dengan di sisi lainnya yang masih cukup banyak. Sekarang Candi Jepara terlihat berupa gundukan tanah yang dikelilingi batu membentuk denah segi empat. Gundukan  tingginya 82 cm. Orientasi candi ke Timur Laut atau sekitar 60o dimana pada arah tersebut terdapat tangga.
Candi berdiri di lahan yang permukaan tanahnya miring ke Utara. Pada jarak sekitar 10 meter ke Utara kemiringannya semakin curam. Temuan batu-batu alam berjarak  9,10 meter di sebelah Utara yang sejajar bangunan diperkirakan sebagai upaya untuk menahan tanah dari erosi. Permukaan tanah yang miring disiasati pembangun candi dengan batu fondasi dan batu lapis pertama yang berbeda ketinggian. Perbedaan ini terlihat dari tinggi atau rendahnya posisi takik pada batu fondasi. Sementara pada batu lapis pertama terlihat dari pelipit rata paling bawah yang berbeda ukuran, yaitu batu di sisi Tenggara tebalnya 10 cm, sisi Timur Laut 16 cm, dan  sisi Barat Laut 20 cm.
Batu-batu yang menyusun candi terdiri dari batu isian, batu kulit, dan batu lantai. Batu isian terdiri dari dua deret. Batu isian ini mempunyai permukaan yang kasar dan polos, tetapi ada juga yang mempunyai takikan. Batu kulit  sebagian besar telah runtuh dan menyisakan batu lapis pertama dan kedua di beberapa tempat. Itupun kondisinya telah melesak, renggang, dan patah. Sementara batu tangga yang masih ditempatnya berasal dari batu pipi tangga. Batu anak tangga terlepas seluruhnya. Pipi tangga mempunyai bentuk yang melengkung pada ujungnya dan  pada dindingnya terdapat ikal tangga. Batu kulit yang masih ditempatnya di sisi Barat Laut berjumlah 19, sisi Barat Daya berjumlah 18, sisi Tenggara 14, dan sisi Timur  Laut 12. Sementara batu yang runtuh berasal dari batu lapis ketiga dan batu sudut. Letaknya sebagian besar masih berada di dekat asalnya.  Beberapa batu yang jauh berpindah diperkirakan aktivitas manusia yang memindahkannya.  Batu yang runtuh di sebelah Barat Laut berjumlah 14, sebelah Barat Daya berjumlah 19, sebelah Tenggara berjumlah 12, dan sebelah Timur laut 32. Penjumlahan batu kulit yang masih berada ditempatnya dan batu runtuhan, yaitu Barat Laut berjumlah 33 batu, Barat Daya berjumlah 37 batu, Tenggara berjumlah 26, dan Timur Laut berjumlah 44 batu. Total batu sekitar 140 batu. Jumlah batu kulit dan tangga yang terdiri dari  pipi tangga dan anak tangga  diperkirakan mencapai sekitar 80 %.
Batu kulit setelah dilakukan pengamatan selanjutnya disebut sebagai tipe 1, 2, 3, dan 4. Batu keempat tipe tersebut ada yang dibentuk dalam satu batu tetapi juga ada dari gabungan beberapa batu. Batu tipe 1 adalah batu yang berada di lapis pertama yang mempunyai bentuk pelipit rata dan ojief. Batu tipe 2 ditandai adanya bentuk setelah lingkaran (halfround), Batu tipe 3 mempunyai bentuk  pilaster dan panel, dan batu tipe 4 seperti batu tipe 3 tetapi untuk ditempatkan di sudut bangunan. Pada batu tipe 3 terdapat lubang yang posisinya tepat pada bagian yang ada pilaster. Lubang berukuran 8 x 8 cm dengan kedalaman 7 cm. Lubang-lubang di daerah sudut bangunan berjumlah tiga dan tengah berjumlah satu. Di atas lubang tersebut diperkirakan dahulunya berdiri tiang-tiang kayu berbentuk persegi berukuran 16 x 16 cm.
Batu-batu bagian tangga yang terdiri dari anak tangga dan pipi tangga. Tenaga pengalaman pemugaran candi batu yang terlibat melakukan kegiatan anastilosis berupa mencari, menidentifikasi, dan susunan percobaan sehingga membentuk profil dinding, pipi tangga, dan tangga. Pada saat kegiatan berakhir batu-batu yang runtuh menjadi berkurang karena sudah terpasang. Batu yang belum terpasang karena berukuran besar dan tidak diketahui lagi susunannya. Pada akhirnya tidak hanya profil candi dapat diketahui tetapi juga ukuran denah candi. Diperkirakan tinggi candi adalah 142 cm sedangkan ukuran denah panjang sisi Barat Laut adalah 825 meter, sisi Barat Daya 779 meter, sisi Tenggara 914 meter,  dan Timur Laut adalah 794 meter.
Batu lantai tidak ditemukan sisa-sisanya. Perkiraan adanya lantai berdasarkan kepada temuan adanya ruang dari batu kulit  untuk dapat menyangga batu lantai. Batu lantai untuk menutupi batu isian dan tanah timbunan.
Di candi juga terdapat batu yang cukup besar berukuran panjang 125 cm, lebar 125 cm, dan tebal 45 cm.  Pada  satu sisinya terdapat pahatan yang berbentuk dua pilaster  dan tiga panel. Batu tersebut tidak diketahui keletakannya maupun fungsinya. Kemungkinan diletakkan di tengah bangunan dengan sisi yang berpahat menghadap ke Timur Laut sesuai arah candi.

6.  Rencana Penanganan
Candi Jepara tidak boleh dilakukan pemugaran secara sembarangan. Pada dirinya melekat aturan mengenai pemugaran. Pemugaran sebagai bagian dari upaya pelestarian merupakan serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk mengembalikan keaslian bentuk bangunan cagar budaya dan memperkuat bila diperlukan yang dapat dipertanggungjawabkan dari segi arkeologis, historis, dan teknis. Pemugaran dapat diartikan sebagai suatu upaya pelestarian bangunan cagar budaya yang sasarannya meliputi perbaikan struktur dan pemulihan arsitektur yang ditetapkan berdasarkan permasalahan kerusakan yang dihadapi.
Perbaikan struktur adalah suatu upaya penanggulangan dan pencegahan terhadap kerusakan bangunan dengan cara memperbaiki dan memperkuat strukturnya bila diperlukan, termasuk di dalamnya perawatan terhadap komponen atau unsur bahan asli sesuai dengan kondisi teknis dan keterawatannya. Pemulihan arsitektur adalah suatu upaya pemasangan kembali komponen atau unsur bangunan ke dalam bentuk arsitektur aslinya berdasarkan otensitas data, serta melakukan penggantian pada bagian bangunan yang rusak atau hilang dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip pemugarannya. Prinsip-prinsip pemugaran itu tertuang dalam Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya pada pasal 77 (ayat 2) huruf a bahwa pemugaran Cagar Budaya harus memperhatikan keaslian bahan, bentuk, tata letak, gaya, dan/atau teknologi pengerjaan.

Perbaikan Struktural
Perbaikan struktural merupakan bagian dari pekerjaan pemugaran bangunan yang kegiatannya  menitikberatkan pada upaya penanggulangan dan pencegahan terhadap segala permasalahan kerusakan, baik yang berkenaan dengan kerusakan struktural maupun pelapukan bahan. Kegiatan yang dilakukan  antara lain pembongkaran, perkuatan struktur, perawatan/konservasi, dan pergantian unsur

Pemulihan Arsitektural
Pemulihan arsitektural merupakan bagian dari pekerjaan pemugaran bangunan yang sasarannya menitik beratkan pada upaya pemasangan kembali unsur bangunan ke dalam bentuk keaslian bentuk arsitekturnya. Pemulihan bangunan senantiasa harus berpedoman pada keaslian bentuk, bahan, pengerjaan, dan tata letak, serta nilai sejarah dan kepurbakalan yang terkandung didalam bangunan cagar budaya. Kegiatannya meliputi penanganan unsur yang rusak, penanganan unsur yang hilang, persyaratan penggantian unsur, dan penyelesaian bentuk akhir.

Penataan Lingkungan
Pemugaran bangunan cagar budaya sasarannya tidak hanya pada penanganan fisik bangunan, tetapi termasuk pula penataan lingkungan lahan situs yang merupakan bagian integral dari upaya pelestarian. Kegiatan utamanya adalah penataan lahan situs, pengadaan sarana penunjang, dan pertamanan yang diperuntukan bagi pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatanya. Kegiatannya meliputi penataan lingkungan lahan situs, pengadaan sarana penunjang, dan pertamanan.

Share:

Profile

Foto saya
AGUS SUDARYADI, arkeolog yang bekerja di Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi Wilayah Kerja Prop. Jambi, Sumsel, Bengkulu, dan Kep. Bangka-Belitung yang sering melakukan Jelajah Situs dalam rangka Pelestarian Cagar Budaya. Menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Situs adalah lokasi yang berada di darat dan/atau di air yang mengandung Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan atau Struktur Cagar Budaya sebagai hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian pada masa lalu. Pekerjaan tersebut memberikan saya kesempatan untuk menjelajahi pelosok negeri di Propinsi Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Kepulauan Bangka-Belitung. Pelosok karena lokasi yang kami datangi kebanyakan berada di luar kota, bahkan sampai masuk hutan. Maklum Cagar Budaya atau Diduga Cagar Budaya yang saya tuju sekarang berada di daerah yang jauh dari kota. Kegiatan yang memerlukan stamina dan mental yang kuat adalah dalam rangka pelestarian Cagar Budaya Bawah Air. Saya telah mengikuti pelatihan Arkeologi Bawah Air di dalam dan luar negeri, antara lain Makassar Sulsel, Pulau Bintan Kepri, Tulamben Bali, dan Karimunjawa Jateng serta Thailand dan Sri lanka.

Popular Posts

Recent Posts

Pages