• Arkeologi Bawah Air

    Negara Indonesia adalah negara yang besar dengan wilayah lautannya lebih luas daripada daratannya. Potensi lautannya menyimpan kekayaan peninggalan warisan bawah air yang sangat besar.

  • Arkeologi Islam

    Masjid Jamik telah ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor KM.10/PW.007/MKP/2004 tanggal 3 Maret 2004 tentang Penetapan Benteng Marlborough

  • Benteng Marlborough

    Lokasi Benteng Marlborough berdiri kokoh di tepi laut di atas sebuah dataran dengan ketinggian lebih kurang 8,5 meter di atas permukaan laut (dpl).

  • PELESTARIAN BENDA CAGAR BUDAYA: DAHULU DAN SEKARANG

    PendahuluanBangsa Indonesia yang memproklamirkan kemerdekaannya pada Tanggal 17 Agustus 1945 mempunyai latar sejarah yang sangat panjang, dimulai dari masa Prasejarah sampai dengan masa kolonial.

CANDI MUARAJAMBI











 Lokasi
Candi ini terletak lebih kurang 27,5 kilometer dari Kota Jambi. Secara administratif berada di Desa Muaro Jambi, Kecamatan Marosebo, Kabupaten Muaro Jambi. Sedangkan secara astronomis terletak pada 103º22’ - 103º45’ Bujur Timur dan 1º24’ - 1º33’ Lintang Selatan. Luas candi Muarajambi lebih kurang 2062 hektar menempati bentang lahan mengikuti alur tepian sungai Batanghari sepanjang 7,5 kilometer

Latar Sejarah
Informasi tertua yang berhubungan dengan daerah Jambi ditemukan pada Naskah Berita Dinasti Tang (618-906 M) yang menyebutkan kedatangan utusan Kerajaan Mo-lo-yue ke Cina pada tahun 644 M dan 645 M. Begitu pentingnya Negeri Mo-lo-yue sehingga seorang pendeta I-Tsing menyempatkan singgah selama 2 bulan untuk memperdalam agama sebelum melanjutkan perjalanannya ke India. Ketika beliau kembali dari India dikatakan Mo-lo-yue tahun 692 telah menjadi bagian Shih-li-fo-shih (Sriwijaya). Suatu keadaan yang ditafsirkan terkait erat dengan Prasasti Karangbrahi (686 M) yang ditemukan di wilayah Jambi hulu.

Nama Jambi sendiri diidentifikasikan dari berita Cina pada tahun 853 dan 871, menyebut kedatangan misi dagang dari Chan-pi atau Pi-chan. Berita Dinasti Sung (960-1279 M) menyebutkan bahwa Chan-pi merupakan tempat bersemayamnya Maharaja San-fo-tsi (Sriwijaya), rakyatnya tinggal pada rumah-rumah panggung di tepi sungai. Raja dan para pejabatnya bermukim di daratan. Sekitar awal abad ke-11 Masehi Chan-pi menobatkan raja di negerinya sendiri dan mengirim utusan ke Cina pada tahun 1079, 1082, serta 1088 M sebagai pemberitahuan bahwa Chan-pi telah menjadi negeri yang berdaulat.

Nama Melayu kembali muncul pada abad ke-13 Masehi dalam Kitab Pararaton dan Nagarakertagama yang menyebutkan bahwa Raja Singhasari bernama Kertanagara mengirimkan Ekspedisi Pamalayu pada tahun 1275 M. Ekspedisi ini bertujuan untuk menjalin pertahanan bilateral antara Singhasari dan Melayu melawan serangan Mongol. Dalam Kitab Nagarakertagama nama Melayu juga disebutkan sebagai sebuah region di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit pada abad ke-14 Masehi.

Sejarah penemuan, Penelitian dan Pelestarian
Situs Muarajambi pertama kali diketahui keberadaaanya dari seorang perwira Inggris bernama S.C. Crooke pada tahun 1820. Penemuan ini terjadi saat ia sedang melakukan kunjungan ke daerah-daerah pedalaman Batanghari guna melakukan survei pemetaan aliran Sungai Batanghari. Crooke sempat menyaksikan reruntuhan bangunan-bangunan dari bata dan arca batu. Ia mengatakan bahwa sejumlah penduduk menganggap bahwa reruntuhan di Muarajambi tersebut pernah menjadi ibukota dari sebuah kerajaan kuno (Anderson, 1971: 398).

Sekitar setengah abad setelah penemuannya, Muarajambi kembali dilaporkan oleh sebuah tim ekspedisi Belanda bernama Expedition Midden Sumatera yang memasukkan Muarajambi dalam daftar daerah yang dikunjunginya. Sayangnya hingga kini laporan tim tersebut belum pernah ditemukan. Pada yahun 1921 dan 1922 kembali nama Muarajambi disebut-sebut yakni ketika T. Adams menerbitkan catatannya dalam majalah Oudheidkundig Verslag. Kunjungan berikutnya dilakukan oleh F. M. Schnitger pada tahun 1935 yang menyebutkan bahwa sedikitnya ada tujuh bangunan kuno di Muarajambi yakni Stano, Gumpung, Tinggi, Gedong I, Gedong II, Gudang Garem, dan Bukit Perak. Selain itu Schnitger juga melakukan serangkaian penggalian pada bangunan-bangunan kuno tersebut kecuali di Candi Astano (Schnitger, 1935: 12-13). Sayangnya penelitiannya ini tidak diikuti dengan dokumentasi lengkap sehingga banyak informasi yang diperoleh tidak ditulis dalam laporan.

Pada tahun 1954 sebuah tim yang diketuai oleh R. Soekmono melakukan inventarisasi kepurbakalaan di Sumatera, terutama kepurbakalaan di Muarajambi. Tempat-tempat yang dikunjungi antara lain Candi Astano, Gumpung, Tinggi. Penelitian arkeologis dalam arti sesungguhnya baru diadakan pada tahun 1981 oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, walaupun sebelum itu beberapa ahli dari lembaga yang sama telah mengunjungi Situs Muarajambi.

Selain penelitian, kegiatan lain yang dilakukan untuk pelestarian dan pengembangan situs Muarajambi adalah pemugaran. Pertama kali diadakan pada tahun 1976 dengan kegiatan berupa pembersihan kompleks percandian untuk membebaskannya dari tumbuhan hutan yang berada di atasnya. Pada waktu itu candi-candi di Muarajambi masih tertimbun tanah yang ditutupi oleh tumbuh-tumbuhan. Dilanjutkan dengan pemugaran oleh Ditlinbinjarah yang dimulai pada tahun 1978 dengan candi Tinggi sebagai objek utama dan selesai pada tahun 1987. pemugaran selanjutnya dilakukan pada Candi Gumpung yang dilaksanakan pada tahun 1982 s.d. 1988, Candi Astano dari tahun 1985 s.d. 1989, Candi Kembarbatu dari tahun 1991 s.d. 1995, Candi Gedong I mulai tahun 1996 s.d. 2000, dan terakhir adalah Candi Gedong II yang dilaksanakan pada tahun 2000 s.d. 2004, serta pada tahun anggaran 2005 pemugaran Candi Tinggi II mulai dilaksanakan dengan pekerjaan pertama adalah pengupasan.

Tinggalan Arkeologis
Situs ini tersebar pada areal yang berada di atas tanggul alam sepanjang 7,5 kilometer dengan luas lebih kurang 12 kilometer persegi. Merupakan sebuah dataran sempit yang dibatasi oleh rawa-rawa di sebelah utara dan Sungai Batanghari di sebelah Selatan. Daerahnya diapit oleh tiga buah parit dan sebuah sungai kecil. Ketiga parit tersebut adalah Sekapung, Buluh, dan Johor, sedangkan sungai kecil bernama Sungai Jambi.

Sampai kini tinggalan yang ditemukan di kawasan Situs Percandian Muarajambi mencapai lebih dari 85 buah. Duabelas di antaranya merupakan bangunan yang sudah dapat diidentifikasi sebagai kompleks candi. Penggunaan istilah kompleks digunakan di sini karena pada umumnya candi di situs ini ditemukan bukan merupakan sebuah bangunan, namun merupakan sebuah sistem yang terdiri dari bangunan induk, satu atau lebih bangunan pendamping (perwara), tembok keliling dengan pintu masuk (gapura) serta kadang-kadang parit keliling. Diantaranya yakni Candi Kotomahligai, Kedaton, Gedong II, Gedong I, Gumpung, Tinggi, Kembarbatu, Astano, Teluk I, Teluk II, Sialang, dan Tinggi II, serta sebuah kolam kuno yang dikenal dengan sebutan Telagorajo. Tinggalan lain berupa menapo atau gundukan tanah yang di dalamnya berisi struktur bata. Selain itu beraneka ragam artefak kuno yang merupakan temuan-temuan lepas yang mempunyai keterkaitan dengan keberadaan candi-candi di Muarajambi. Temuan tersebut antara lain berupa arca, lapik arca, lesung, belanga perunggu, gong perunggu, lempengan emas yang berisi mantra-mantra, keramik, manik-manik, bandul jaring, benda-benda perlengkapan upacara, dan perhiasan.

Pada umumnya candi di Sumatera dibuat dengan menggunakan bahan bata yang ukurannya lebih besar dari bata sekarang. Namun demikian penggunaan batu juga ditemukan, terutama pada beberapa unsur bangunan seperti pada sudut-sudut bangunan yang rentan terhadap daya tekan besar. Dari hasil penelitian terhadap bangunan candi dapat diketahui bahwa cukup banyak bangunan candi di Muarajambi yang dibangun lebih dari satu kali, ada yang dua kali, bahkan ada yang sampai tiga kali. Mengingat peninggalannya berupa kompleks percandian, maka situs Muarajambi dapat dikatakan sebagai situs keagamaan. Berdasarkan bukti-bukti yang ditemukan, antara lain berupa Arca Dewi Prajnaparamitha, wajra (sebuah alat keagamaan berujung empat dan terbuat dari logam) dan rancangan kompleks percandian yang didasari konsep makrokosmos dan mikrokosmos dapat diketahui aliran agama yang melatari Situs Muarajambi adalah agama Budha Mahayana.

Selain merupakan situs keagamaan, Situs Muarajambi juga merupakan situs pemukiman. Hal ini ditandai dengan adanya temuan-temuan yang berkaitan dengan aktivitas keseharian manusia yang telah menetap dan berintegrasi dengan lingkungannya dalam jangka waktu yang lama di lokasi tersebut. Misalnya temuan berupa keramik lokal dan asing yang ditemukan dalam jumlah besar di dalam maupun di luar kompleks percandian. Penelitian arkeologis di Muarajambi telah menempatkan kronologi relatif situs ini pada abad 9-14 Masehi. Rentang masa itu merupakan bagian dari masa pemerintahan Kerajaan Melayu Kuno dan Sriwijaya di Sumatera.
 
Pengembangan dan Pemanfaatan
Pemanfaatan dan pengembangan Kawasan Situs Percandian Muarajambi ini diarahkan pada bidang antara lain:
- Ilmu Pengetahuan
- Pendidikan
- Kebudayaan
- Pariwisata
- Agama
- dan Sosial

Saat ini Kawasan Situs Percandian Muarajambi telah ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya dengan Nomor: 31/C1/JB/99 tertangal 26 Januari 1999 dan sebagai Benda Cagar Budaya dengan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 045/M/2000 tertanggal 30 Maret 2000. Sebagai Benda Cagar Budaya yang mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan sudah tentu kita wajib menjaganya bersama. Anda dapat berpartisipasi menyelamatkannya dengan tidak merusak bangunan bersejarah ini. Bantulah candi ini untuk memenuhi keinginannya “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”



Share:

BENTENG MARLBOROUGH (1714-1719)


Lokasi
Benteng Marlborough berdiri kokoh di tepi laut di atas sebuah dataran dengan ketinggian lebih kurang 8,5 meter di atas permukaan laut (dpl). Secara administratif benteng ini terletak di Desa Kebon Keling, Kelurahan Kampung Cina, Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu, Propinsi Bengkulu.

Bagian luar benteng dikelilingi parit dan tanggul, namun pada bagian depan dan belakang sudah tidak tampak lagi hanya berupa tanah yang agak rendah dan bekas bangunan yang telah dibongkar. Sisi luar parit keliling yang merupakan tanggul kini dibuatkan jalan setapak selebar kurang lebih 1 meter. Dari jalan setapak ini masih terdapat halaman yang dibatasi oleh pagar besi yang mengelilingi benteng yang menjadi pembatas antara benteng dengan lingkungan luar.

Lingkungan di luar pagar benteng berbatasan dengan jalan raya, yaitu pada sebelah timur berbatasan dengan jalan Benteng, (dahulu Jalan Burniat), berlanjut dengan pertigaan yang merupakan ruas Jalan Khodijah dan Taman Tapak Paderi dengan latar pemukiman penduduk dan tepat pada sudut pertigaan jalan terdapat sekolah. Di sebelah barat berbatasan dengan Jalan Jenderal A. Yani dan pertokoan serta pecinan, termasuk bekas Gedung Pengadilan, sebelah utara Jalan Jenderal A. Yani dan Pelabuhan Lama (obyek wisata Pantai Bai), dan sebelah selatan Jalan Benteng dan perumahan masyarakat Kelurahan Kebun Keling

Latar Belakang Sejarah
Kedatangan Bangsa Eropa ke Bengkulu seperti juga ke daerah lain, pada mulanya untuk berhubungan dagang. VOC datang pada tahun 1604 dan mendirikan kantor pelelangan, kemudian pergi pada tahun 1670. Sedangkan Inggris melalui EIC (East India Company) datang pada tahun 1685 dan mengadakan perjanjian dengan Kerajaan Selebar. Kolonial Inggris berkuasa di Bengkulu selama 140 tahun terhitung mulai dari tahun 1685 dan berakhir pada tahun 1825 dengan adanya perjanjian London (Treaty of London) yang berisi penyerahan daerah kekuasaan Inggris kepada Belanda. Dalam rentang waktu tersebut, Inggris membangun sarana dan prasarana untuk menunjang imperialismenya di Bengkulu. Sarana dan prasarana yang dibangun antara lain garnizun, loji, gudang, jalan, pelabuhan, perkantoran dan benteng-benteng pertahanan. Salah satu benteng yang dibangun adalah benteng Marlborough. Pemberian nama Marlborough adalah sebagai penghormatan kepada John Churchil yang bergelar Duke of Marlborough I.

Pembangunan benteng Marlborough dimaksudkan sebagai benteng pertahanan untuk mempertahankan kekuasaan Inggris di kawasan pantai barat Sumatera dari ancaman Belanda. Selain itu juga dimaksudkan untuk mempertahankan daerah Bengkulu sebagai daerah monopoli lada dan pusat perdagangan.

Pembangunan benteng diprakarsai oleh Gubernur Yoseph Collet (1712-1716). Awal pembangunannya dimulai pada tahun 1713 dan selesai tahun 1719, dalam rentang waktu tersebut tercatat nama-nama penguasa Inggris yang mempunyai andil dalam pembangunan benteng tersebut, antara lain Yoseph Collet (1712-1716), Thiophillus Shyllings (1716-1717), Richard Former (1717-1718) dan Thomas Cooke (1718).

Fungsi Benteng Marlborough sebagai benteng pertahanan terus berlanjut pada periode berikutnya, yaitu oleh pihak Belanda (1825-1942), Jepang (1942-1945) dan oleh tentara Republik Indonesia pada masa perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Benteng yang masih berdiri kokoh sampai sekarang ini merupakan monumen perjuangan rakyat Bengkulu dalam menuntut keadilan dan kebebasan dari penjajah.

Arsitektur Bangunan
Benteng Marlborough berdiri di atas lahan seluas 44.100,5 meter2 dengan panjang 240,5 m dan lebar 170,5 m, dengan orientasi 215 derajat ke arah barat daya. Benteng Marlborough berbentuk kura-kura dengan arah hadap kepala ke barat daya, sedangkan pintu masuk benteng lebih mengarah ke barat, yaitu sisi mata kanan kura-kura dengan pintu masuk dan jembatan yang menghubungkan jalan masuk dengan bagian luar.

Pada bagian kepala dan badan dihubungkan dengan jembatan yang membentuk bagian leher. Pada bagian belakang benteng terdapat pintu masuk dari belakang dan sebuah jembatan di atas parit yang membentuk bagian ekor. Ketiga jembatan itu pada masa awalnya sewaktu-sewaktu dapat diangkat dan diturunkan. Disekeliling benteng dari batas terluar dinding masih terdapat batas-batas asli berupa parit-parit.

Pada bagian dalam benteng terdapat beberapa bangunan memanjang yang pada awalnya difungsikan sebagai gudang persenjataan, tempat tahanan dan perkantoran serta ruang terbuka yang merupakan halaman bagian dalam. Secara keseluruhan bentuk ba-ngunan yang berdenah kura-kura merupakan ciri khas benteng-benteng di Eropa. Bagian kepala kura-kura berfungsi sebagai pintu masuk benteng, sedangkan badan kura-kura berfungsi sebagai benteng dan keempat kakinya berfungsi sebagai bastion.

Benteng ini dibangun dengan menggunakan campuran kapur, pasir, dan semen merah. Tinggi dinding benteng bagian luar 8,65 m, tebal 3 m dan tinggi bagian dalam 8,50 m, tebal 1,85 m. Bangunan benteng terdiri atas delapan bangunan yaitu :
a. Bangunan kepala kura-kura
(panjang 60 m dan lebar 40,40 m)
b. Bangunan kaki kura-kura bagian selatan
(panjang 50,90 m dan lebar 50,60 m);
c. Bangunan kaki kura-kura bagian timur
(panjang 50,90 m dan lebar 50,10 m)
d. Bangunan kaki kura-kura bagian utara
(panjang 70,20 m dan lebar 40,60 m);
e. Bangunan kaki kura-kura bagian barat
(panjang 50,40 m dan lebar 50,10 m);
f. Bangunan timur laut
(panjang 50,20 m dan lebar 6,80 m);
g. Bangunan tenggara
(panjanng 60 m dan lebar 6,80 m);
h. Bangunan barat laut
(panjang 61 m dan lebar 6,80 M).

Tiap-tiap bangunan mempunyai ruangan-ruangan yang berfungsi sebagai tempat tahanan, gudang persenjataan, perlengkapan dan kantor. Pada tiap kaki kura-kura (bastion) terdapat beberapa pucuk meriam baik berukuran besar maupun berukuran kecil dan pada bagian bawah bangunan kaki kura-kura bagian utara terdapat terowongan yang berukuran panjang 6 m dan lebar 2 m. Dalam bangunan terdapat lubang perlindungan yang dipergunakan sebagai jalan keluar dari kepungan musuh. Bagian tengah benteng terbuka tanpa atap, sedang lantainya terbuat dari ubin, batu kali atau karang sedang atap terbuat dari genteng. Pintu gerbang dan pintu-pintu ruangan lainnya terbuat dari kayu yang diberi penguat berupa pasak-pasak besi. Sedang ruang tahanan menggunakan terali besi.

Pada bagian belakang pintu benteng terdapat tiga buah bangunan makam, yaitu makam Thomas Parr, Charles Muray dan satu makam tak dikenal. Selain ketiga makam tesebut terdapat pula empat buah prasasti nisan berbahasa Inggris yang ditempelkan pada dinding gerbang pintu masuk dari belakang yang bertuliskan : George Thomas Shaw yang meninggal tanggal 25 April 1704, Richard Watts yang meninggal 17 Desember 1705 dalam usia 44 tahun, Henry Stirling yang meninggal pada bulan April 1744 dalam usia 25 tahun dan Capt. James Coney yang meninggal Februari 1737 dalam usia 36 tahun.

Riwayat Pelestarian
Dalam upaya melestarikan dan melindungi bangunan benteng dari kemungkinan terjadinya kerusakan, pada tahun anggaran 1977/1978 sd. 1983/1984 dilakukan pemugaran oleh Proyek Pembinaan dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Bengkulu. Pemugaran meliputi bagian kepala kura-kura, kaki kura-kura barat dan utara, jembatan (tiang dinding pengaman), pembuatan pintu dan jendela serta pertamanan. Pada tahun 1984 dilakukan peresmian purnapugar Benteng Marlborough oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Prof. Dr. Haryati Soebadio.

Upaya pemeliharaan selanjutnya dilakukan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi Wilayah Kerja Propinsi Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Bangka Belitung bekerja sama dengan Proyek Pembinaan dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Bengkulu. Meliputi penunjukan juru pelihara pada tahun 1994, penataan kembali pertamanan benteng pada tahun 1992, konservasi meriam benteng pada tahun 1997 dan pengangkatan Satuan Pengamanan (SATPAM) tahun 1998.

Selain itu untuk menunjang terlaksananya pelestarian bangunan dan lingkungannya dengan lebih maksimal juga dilakukan pemintakatan situs dan evaluasi kondisi keterawatan pasca pemugaran oleh Bagian Proyek Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Bengkulu pada tahun 1997/1998. Pemugaran selanjutnya dilakukan oleh Proyek Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jambi dari tahun anggaran 2002 sd. 2004.

Penutup
Keberadaan Benteng Marlborough sebagai benda cagar budaa harus tetap dipertahankan karena mengingat peranannya di masa lalu. Pada masa lalu benteng ini merupakan salah satu bukti sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Selain itu benteng dan kawasan lingkungan pemukiman yang melingkupinya menunjukkan adanya ciri arsitektur yang khas. Kekhasan ini tampak dari gaya arsitektur bangunan yang memperlihatkan suatu ciri kawasan kota yang pernah mendapatkan pengaruh beragam, yaitu mulai dari pengaruh Inggris, Belanda, dan Jepang serta masa perjuangan kemerdekaan. Dengan adanya ciri khas ini, maka benteng Marlborough menjadi salah satu aset wisata budaya andalan bagi Propinsi Bengkulu.

Share:

MENGENAL SITUS MEGALITIK TINGGIHARI









Pendahuluan
Pegunungan Bukit Barisan yang memanjang sepanjang Pulau Sumatera menyimpan banyak peninggalan-peninggalan tua dari masa Prasejarah. Hal itu tidak mengherankan karena dataran tinggi tersebut merupakan daratan yang tidak terendam oleh laut dan merupakan jalur migrasi manusia prasejarah. Peninggalan manusia prasejarah tersebut dapat ditemukan di daerah Kerinci (Jambi), daerah Pasemah (Sumatera Selatan), dan lima puluh kota (Sumatera Barat). Namun dibanding dengan daerah lainnya, daerah Pasemah merupakan daerah yang paling kaya dengan peninggalan Prasejarahnya. Batu-batu besar dengan berbagai bentuk, pahatan di bukit batu, susunan batu yang membentuk ruangan sangat menakjubkan dan memerlukan keahlian yang tinggi. Masyarakat Pasemah menyebutnya batu gajah, rumah batu, batu macan, dan sebagainya. Kalangan para ahli menggolongkannya dalam tradisi megalitik. Tradisi megalitik adalah adat atau kebiasaan mendirikan bangunan dari batu besar, baik dalam satuan maupun kelompok yang fungsinya berkaitan dengan pemujaan leluhur. Peninggalan tradisi ini meliputi (1) pendirian bangunan besar untuk upacara pemujaan dan/atau kubur dan (2) keperluan lain, seperti batas tanah, altar permusyarawatan, tanda satuan masyarakat.

Tradisi pendirian bangunan-bangunan megalitik selalu berdasarkan kepercayaan akan adanya hubungan antara yang hidup dan yang mati, terutama kepercayaan adanya pengaruh kuat dari yang telah mati terhadap kesejahteraan masyarakat dan kesuburan tanah. Pusat pemujaan biasanya dihubungkan dengan leluhur yang boleh jadi adalah nenek moyang, pahlawan perang, pendiri desa, atau tokoh-tokoh mistis yang berpengaruh kuat terhadap kesuburan tanah, padang perburuan, dukun, dan sebagainya.


Kronologi

Penelitian tinggalan/bangunan tradisi megalitik di Sumatera Selatan dilakukan antara lain oleh Ullman (1850), Tombrink (1870), Engelhord (1891), Krom (1918), Westenenk (1922), Hoven (1927), Eerde (1929), Hoop (1932, dan Geldern (1933). Peneliti lain pada masa-masa berikutnya yang muncul adalah Keekeren, R.P. Soejono, Teguh Asmar, Haris Sukendar, Bagyo Prasetyo dan Sebagainya. Kronologi berbagai hasil penting dari penelitian tinggalan tradisi Megalitik tersebut sebagai berikut :
1. Pada tahun 1870 Tombrik menduga bahwa tinggalan-tinggalan tradisi megalitik itu sebagai Hindoe- monumenten
2. Pada tahun 1928 Robert von Hein Geldern menyatakan bahwa pendirian bangunan-bangunan megalitik itu berkaitan dengan alam kubur dan arwah nenek moyang
3. Pada tahun 1929 Van Eerde menyatakan bahwa bangunan-bangunan megalitik Pasemah sama sekali lepas dari pengaruh budaya Hindu
4. Pada tahun 1932 Van der Hoop menyusun ihtisar tentang peninggalan tradisi megaltik di Sumatera Selatan
5. Pada tahun 1958 van Heekeren menguraikan pendapatnya tentang tipologi, fungsi, dan pertanggalan relatif megalitik Pasemah
6. Pada tahun 1958 J.L. Peacock menganalisis aspek sejarah dan fungsi megalitik Pasemah
7. Penelitian-penelitian tahun 1970 – 1990-an mulai melingkupi kajian aspek-aspek sosial, teknologi, rincian situs, dan pola-pola sebarannya.

Jenis temuan

Kompleks Megalitik Tinggihari terletak di sebuah dataran tinggi yang berada di Kabupaten Lahat. Secara Administrasi berada di wilayah Desa Simpur, Kecamatan Pulaupinang, Kabupaten Lahat. Lokasi situs telah dibebaskan dan dibatasi sekelilingnya dengan pagar kawat. Lingkungan sekitar situs telah berupa perkebunan kopi. Penataan lingkungan yang telah dilakukan di situs beberapa tahun yang lalu kondisinya sekarang kurang terawat. Di lokasi situs terdapat menhir berelief, batu tegak, batu datar, lumpang batu, arca manusia, dan arca binatang. Situs Tinggihari dibagi menjadi tiga bagian yang disebut Tinggihari I, II, dan III, karena lokasinya yang tidak dalam satu area. Para ahli menduga bahwa Kompleks Megalitik Tinggihari merupakan bagian dari peninggalan tradisi megalitik yang tersebar luas di Dataran Tinggi Pasemah di Kabupaten Lahat. Berikut jenis-jenis peninggalan yang terdapat di kompleks Megalitik Tinggihari

Tinggihari I
Tinggihari I berada di sebelah timur atau kompleks yang akan kita jumpai pertama kali setelah melalui jalan aspal dengan kondisi jalan yang berkelok-kelok dan menanjak. Luas lokasi yang telah dibebaskan dan diberi pagar sebesar 19.200 meter persegi. Dilokasi Tinggihari I dapat ditemukan antara lain :

Menhir Berelief
Menhir terletak berada di dekat pintu masuk yang terletak di sebelah timur. Menhir berukuran tinggi 314 cm dan lebar 84 cm. Permukaan batunya terdapat pahatan yang menggambarkan dua orang manusia dan seekor buaya. Gambar manusia yang satu dipahatkan dalam posisi duduk di atas manusia lainnya yang sedang berdiri. Buaya digambarkan dengan posisi menghadap ke atas, kedua kaki kirinya terkesan sedang mendukung tokoh manusia yang berdiri.

Batu Tegak
Batu tegak berjumlah 4 buah dengan lokasi yang berpencar. Batu ini berupa batu alam yang berdiri ditegakkan. Fungsi batu tegak ini belum diketahui.

Batu Datar
Batu datar berjumlah 2 buah dengan lokasi yang juga berpencar. Batu ini berupa batu alam dengan permukaan atasnya yang berbentuk datar. Fungsi batu datar ini belum diketahui.

Lumpang Batu
Lumpang batu berjumlah 3 buah dengan lokasi yang juga berpencar. Pada batu ini terdapat lubang-lubang yang berjumlah dua atau empat lubang.

Arca Manusia
Arca manusia terletak sekitar 125 meter atau berada di sebelah barat dari menhir berelief. Arca ini pada bagian kepalanya telah hilang. Arca digam-barkan dalam posisi duduk dengan lutut mengarah ke atas. Pada bagian leher dan tubuh memperlihatkan batas pakaian yang dikenakannya dan kalung manik-manik yang berbentuk heksagonal. Tangan kanannya sedang memeluk seorang anak. Ukuran arca panjang 153 cm, lebar 99 cm, dan tinggi 123 cm.

Arca Babi Hutan
Arca terletak sekitar 50 meter arah barat daya dari arca manusia. Arca berupa batu berbentuk oval dengan pahatan seekor babi hutan. Tampaknya arca belum selesai dikerjakan sempurna. Beberapa bagian yang terlihat jelas adalah bagian kepala, telinga, moncong, mata, taring, ekor, dan kaki. Arca berukuran panjang 337 cm, lebar 148 cm, dan tinggi 96 cm.


Tinggihari II
Lokasi Tinggihari II terletak sekitar 900 meter atau sebelah barat daya dari Tinggihari I. Luas lokasinya 110 meter persegi dan dibatasi dengan pagar kawat. Temuannya sebagai berikut :

Arca Manusia
Arca manusia ini meng-gambarkan seorang wanita dalam posisi duduk sedang menggendong anak kecil. Bagian leher mengenakan kalung manik-manik berbentuk heksagonal dan diakhiri dengan hiasan berbentuk bulat dibagian belakang-nya. Pada tangan kanan dan kiri mengenakan gelang yang tampaknya terbuat dari logam. Ukuran arca tinggi 196 cm, tebal 136 cm, dan lebar 145 cm.

Batu Tegak
Batu tegak berjumlah satu buah yang terletak di sisi kanan situs. Batu berukuran 79 cm, lebar 74 cm, dan tebal 41 cm.

Batu Datar
Batu terletak di dekat arca manusia berukuran panjang 120 cm, lebar 144 cm dan tebal 180 cm.

Lumpang Batu
Batu berjumlah 2 buah yang masing-masing berjumlah 1 dan 2 lubang. Lokasinya lumpang saling berdekatan.


Tinggihari III
Lokasi Tinggihari III berjarak sekitar 1,2 km ke arah selatan dari lokasi Tinggihari II. Luas kompleks berukuran 19.200 meter persegi yang dibatasi oleh pagar kawat. Temuan-temuannya antara lain :

Arca Manusia
Arca manusia berjumlah dua buah. Arca manusia ini digambarkan dalam posisi jongkok. Tanda-tanda yang dimiliki arca antara lain tangan kiri mengapit nekara perunggu, kepala memakai topi (helm), kalung manik-manik de-ngan bentuk liontin di bagian leher.

Batu Tegak
Batu tegak terdapat dalam bentuk kelompok yang berjumlah 2, 3 dan 4 buah dengan membentuk segi empat. Batu yang semacam itu sekurangnya terdapat 30 kelompok.

Batu Datar
Batu datar ini terletak dekat arca manusia dan sebuah batu tegak yang cukup besar dalam kondisi roboh.

Menhir Berelief
Menhir berbentuk silinder dengan goresan yang menggambarkan manusia dengan kedua tangan menengadah ke atas. Menhir berukuran 148 cm dan diameter 57 cm.
Share:

MAKAM BELANDA (Kerkhof) di Kota Pangkalpinang


Pendahuluan
Pulau Bangka kedatangan bangsa Eropa di mulai pada masa VOC sekitar abad 17 Masehi. Selanjutnya dengan ditemukannya kandungan timah pada tahun 1710 menjadi awal eksplorasi timah di Bangka. Berkembangnya pertambangan timah di Bangka memerlukan tenaga yang tidak sedikit. Kebutuhan tenaga kerja telah mendorong didatangkannya tenaga-tenaga dari Cina sebagai pekerja tambang. Tahun 1755 sebagai awal kedatangan pekerja Cina ke Bangka. Kekuasaan Belanda atas Bangka sempat terhenti tahun 1812-1816 ketika Inggris dapat mengalahkan Perancis dimana pada waktu itu Belanda dikuasai oleh Perancis. Namun berdasarkan perjanjian London (The Treaty of London) yang terjadi pada tahun 1814, maka daerah-daerah yang sebelumnya dikuasai oleh Belanda, termasuk Bangka dikembalikan lagi kepada Belanda. Pengaruh Eropa yang dibawa oleh Inggris dan Belanda masih dapat dilihat sampai sekarang yang berupa bangunan-bangunan kolonial.

Masa penguasaan Belanda di Bangka yang berlangsung lama telah meninggalkan bukti-bukti antara lain makam. Tempat pemakaman mereka yang disebut Kerkhof (artinya kuburan dalam Bahasa Belanda) dapat dijumpai di Kota Pangkalpinang, Sungailiat, Belitung, dan Mentok. Nasib kerkhof-kerkhof tersebut kondisinya cukup memprihatinkan dan terancam untuk digusur. Nasib tragis telah dialami oleh kerkhof di Mentok yang hanya menyisakan tugu dan telah menjadi sebuah lorong yang bernama Lorong Kerkhof.

Kerkhof di Kota Pangkalpinang sendiri telah mendapat perhatian, terlihat dari beberapa kegiatan yang pernah dilakukan oleh BP3 Jambi (Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi) dan Balar Palembang (Balai Arkeologi Palembang). Pada tahun 1996 dilakukan Pendokumentasian dan Survei Situs dan Benda Cagar Budaya di Kabupaten Bangka dan Kota Pangkalpinang. Berdasarkan survei diketahui bahwa telah banyak makam-makam yang rusak oleh tangan-tangan jahil, antara lain hilang dan pecahnya nisan-nisan yang terbuat dari marmer dan vandalisme yang berupa coretan-coretan dengan menggunakan cat semprot. Selain itu dari informasi juga diketahui bahwa beberapa makam telah dipindahkan oleh keluarganya ke tempat lain. Diperkirakan makam-makam tersebut berasal dari tahun 1902 sampai dengan tahun 1950-an.

Pada tahun 1998 dilakukan Pemotretan Situs dan Benda Cagar Budaya di Kecamatan Mentok dan Kotamadya Pangkalpinang, Kabupaten Bangka, Provinsi Sumatera Selatan. Pada tahun yang sama Balar Palembang melakukan Survei Tinggalan Arkeologi Kolonial di Pulau Bangka. Pada tahun 2003 dilakukan kegiatan Inventarisasi Benda Cagar Budaya di Kabupaten Belitung dan Pemantauan Pemeliharaan di Provinsi Bangka-Belitung. Pelestarian Kerkhof juga dilakukan dengan pemagaran dan penempatan juru pelihara. Namun dari semua kegiatan yang telah dilaksanakan itu belum ditindaklanjuti dengan kegiatan fisik seperti perbaikan makam dan penataan lingkungan pemakaman. Hal itu disebabkan belum adanya data yang lengkap. Selanjutnya untuk kelengkapan data tersebut dilakukanlah kegiatan Pemetaan, Penggambaran, dan Inventarisasi Makam Belanda (Kerkhof) di Kota Pangkalpinang.

Letak dan Lingkungan
Makam Belanda atau penduduk menyebutnya Kerkof atau Pendem Belanda secara administratif terletak di Jalan Hormen Maddati yang dahulunya bernama Jalan Sekolah, termasuk Kelurahan Melintang, Kecamatan Rangkui, Kota Pangkalpinang. Lokasi tepatnya berada di persimpangan Jalan Solihin GP dan Jalan Hormen Maddati. Secara astronomis terletak pada 02o07’971” Lintang Selatan dan 106o06’475” Bujur Timur.

Keletakan makam cukup jauh dari pusat kota atau sekitar rumah residen yang merupakan pemukiman Belanda pada masa itu. Dahulunya makam Belanda berlokasi di daerah pinggiran dan menempati tanah yang cukup luas. Namun selanjutnya terjadi pengurangan luasnya yang disebabkan pemukiman. Pemukiman itu juga menyebabkan dibongkarnya sejumlah makam. Hasil pemetaan terhadap tanah yang masih tersisa adalah 2.117,88 m2. Lingkungan makam dan sekitarnya telah dibatasi dengan pagar tembok yang dibangun pada tahun 1997. Bentuk pagar dibuat sederhana karena dimaksudkan hanya untuk pengamanan dari lingkungan sekitarnya.

Makam ini sekarang terletak di pemukiman yang yang cukup padat. Pada sisi timur dan selatan berbatasan dengan perumahan penduduk. Penduduk sekitarnya tampak kurang menjaga kebersihan, yaitu dengan membuang sampah ke dalam pemakaman. Selain itu di sisi utara menjadi tempat berjualan pedagang kaki lima dan bengkel motor. Bahkan bengkel tersebut membuat bangunan yang masuk ke dalam pemakaman. Hal-hal itu menyebabkan kotornya lingkungan pemakaman karena pembuangan sampah yang sembarangan.

Makam Belanda

Makam Belanda merupakan satu dari sekian banyak bukti sejarah yang terdapat di Kota Pangkalpinang. Keberadaan makam ini erat kaitannya dengan kehidupan orang-orang asing yang pernah hidup dan tinggal di masa sebelum Kemerdekaan. Pada tahun 1813 ketika Inggris berkuasa di Bangka, Inggris (East India Company) menjadikan Pangkalpinang salah satu distrik dari tujuh distrik eksplorasi timah selain Jebus, Klabat, Sungailiat, Merawang, Toboali, dan Belinyu. Sejak itu Pangkalpinang mulai terkenal sebagai Kota Timah dan kota kecil pusat kegiatan perdagangan dan jasa di Pulau Bangka. Pada masa kemudian, Belanda menjadikan Pangkalpinang sebagai basis kekuatan militer untuk menumpas perlawanan Rakyat Bangka. Berikutnya Belanda menjadikannya sebagai ibukota Karesidenan Bangka pada Tahun 1913.

Makam Belanda telah menjadi objek wisata sejarah dan budaya Kota Pangkalpinang. Hal itu menjadi modal untuk dimulainya pembenahannya yang selama ini kurang terawat. Kondisi makam cukup kotor dengan sampah-sampah yang dibuang oleh penduduk sekitarnya. Banyaknya pohon yang tumbuh juga menyebabkan banyak ranting atau daun yang berjatuhan. Bahkan terdapat beberapa pohon yang menyebabkan kerusakan pada makam. Kerusakan yang parah terjadi pada makam no. 79. Semak-semaknya juga tumbuh dengan cukup subur. Pembersihan kompleks makam yang dilakukan oleh juru pelihara tampaknya kurang maksimal. Lingkungan yang kotor juga pada bagian luar makam di sekitar pagar keliling. Disana terdapat juga sampah dan tanaman liar.

Makam yang berhasil didata berjumlah 102 makam. Makam-makam mempunyai bentuk dan ukuran yang bermacam-macam. Bentuk makam umumnya berbentuk persegi panjang dan terdiri dari beberapa susunan (undakan). Empat makam diantaranya mempunyai cungkup, yaitu makam no. 36, 44, 47, dan 61. Makam 47 merupakan makam yang cungkupnya paling bagus. Tiga cungkup lainnya mempunyai bentuk yang sama. Bentuk dasar nisan-nisan terdiri dari bentuk segi empat, segi lima dan segi enam. Variasinya berupa bulatan dibagian atas. Orientasi makam mengarah timur laut - barat daya. Arah hadap makam yang berbahasa Belanda dan Bahasa Indonesia menghadap timur laut. Sedangkan makam yang berbahasa Jepang umumnya sebaliknya.

Makam-makam sebagian besar telah mengalami kerusakan. Makam yang masih dalam kondisi baik berjumlah 21 buah (20 %). Makam yang dikategorikan mengalami kerusakan ringan berjumlah 50 buah (49 %) dan kerusakan parah berjumlah 28 buah atau 27 %. Makam yang telah dibongkar berjumlah 2 buah. Pembongkaran makam dilakukan pada bulan Oktober 2004. Selain itu terdapat satu buah prasasti yang tidak diketahui asal lokasinya.

Beberapa makam masih terdapat prasasti yang menyebutkan nama yang dimakamkan, tanggal lahir, tanggal meninggal, dan kalimat-kalimat tertentu. Pada umumnya makam telah hilang pada bagian prasastinya. Makam yang masih mempunyai prasasti berjumlah 30 buah (29 %). Prasasti dituliskan pada marmer, batu andesit, dan dinding. Sistem penulisannya berupa huruf timbul dan huruf dengan cara memahat. Kondisi prasasti telah mengalami kerusakan, antara lain hilang, kotor, ditumbuhi lumut, patah, aus, retak, dan disemprot cat. Nama-nama yang dimakamkan, yaitu 25 berbahasa Belanda, 10 berbahasa Jepang, dan 3 berbahasa Indonesia. Makam yang berbahasa Indonesia dilihat dari namanya berasal dari Indonesia Timur. Berdasarkan angka tahun yang terdapat pada nisan diketahui bahwa makam yang tertua berangka tahun 1800 dan yang termuda berangka tahun 1954. Makam-makam yang berangka tahun lebih tua lokasinya berada di sebelah timur laut. Semakin ke barat, maka makamnya semakin muda. Pada sebuah makam ditemukan adanya dua angka tahun meninggalnya dalam satu makam, yaitu pada makam no. 13 yang berangka tahun meninggalnya (overleden), yaitu 7 Oct. 1800 dan 2 Januari 1902 dengan nama Freetje en Sjarl Bernasco (Lihat Tabel No. 1)

Penutup
Kota Pangkalpinang mempunyai sejarah yang cukup panjang. Hal tersebut dibuktikan oleh peninggalan-peninggalan sejarahnya yang masih dapat kita saksikan sampai sekarang. Bukti-bukti sejarah akan mendukung identitas Kota Pangkalpinang di masa yang akan datang. Sebaliknya kehilangan bukti-bukti sejarah akan mengurangi identitasnya. Sejarah Kota Pangkalpinang tergambarkan dengan jelas antara lain pada sebuah tempat yang bernama Makam Belanda yang dikenal pula oleh masyarakat sebagai Kerkof atau Pendem Belanda. Pada Makam Belanda ini dapat dijumpai beberapa hal yang dapat ditelusuri, yaitu mengenai nama, tanggal lahir dan meninggal, serta asal orang yang dimakamkan. Makam-makam tersebut diletakkan secara teratur dengan suatu barisan. Tampaknya barisan makam di sebelah timur laut berangka tahun lebih tua atau dengan kata lain semakin ke selatan maka makam-makam tersebut berangka tahun lebih muda. Hal itu menandakan bahwa awal pemakaman jenazah di mulai di sebelah timur laut kemudian berkembang ke selatan.

Makam-makam sekarang kondisinya sebagian besar telah mengalami kerusakan. Makam yang masih dalam kondisi baik berjumlah 21 buah (20 %). Makam yang dikategorikan mengalami kerusakan ringan berjumlah 50 buah (49 %) dan kerusakan parah berjumlah 28 buah atau 27 %. Makam yang telah dibongkar berjumlah 2 buah. Pembongkaran makam dilakukan pada bulan Oktober 2004 atas permintaan ahli warisnya untuk dimakamkan kembali di Jakarta. Selain itu terdapat satu buah prasasti yang tidak diketahui asal lokasinya. Agar tidak terjadi kerusakan yang lebih parah, maka perlu dilakukan perbaikan dan pemeliharaan serta perlu dilakukan penataan lingkungannya.


DAFTAR PUSTAKA

Aryandini Novita, dkk.
1998 Laporan Penelitian Arkeologi Survei Tinggalan Arkeologi Kolonial di Pulau Bangka, Balai Arkeologi Palembang

Anonim
Booklet Welcome to Pangkalpinang, Kota Pangkal Kemenangan, Pemerintah Kota Pangkalpinang, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata

Junus Satrio Atmodjo, Drs., dkk.,
1996 Laporan Pendokumentasian dan Survei Situs dan Benda Cagar Budaya di Kabupaten Bangka, Provinsi Sumatera Selatan, Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Jambi, Sumatera Selatan, dan Bengkulu,

Sri Patmiarsi R., Dra.,
1996 Laporan Pendokumentasian dan Survei Situs dan Benda Cagar Budaya di Kabupaten Bangka, Provinsi Sumatera Selatan, Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Jambi, Sumatera Selatan, dan Bengkulu,



DAFTAR PRASASTI BERBAHASA BELANDA
DI KERKHOF KOTA PANGKALPINANG


Hier Rust E.K.A Coldenhoff Overleden 11 Nov. Oud 39 Jaren


Hier Rust Onze Jongste Heveling Henk Runschotel Geb. Pangkalpinang 22 - 8 - 20 Overl. 28 - 6 - 21


Hier Rust In Vrede Mev. V. Scholtz Geb. E. Rossmann Overl. 19 - 4 - 1914


Hier Rust Cornelia Suzanna Pijloo Geb. 29 Juli 1915 Overl. 26 November 1915 Jong Gestorven Vroeg Bij God


Franscarel Upielsna Geboren 6.4.11 Overleden 3.5.11


Rust Zacht Mijn Lieve Shaapjes Freetje en Sjarl Bernasco Overl. 7 Oct. 1800 Overl. 2 Jan.1902


Hier Rust Mijn Geliefde Echtgenoot P.W Lensink Oud 44 Jaar Overl. 8 Nov. 1918 …….. is Niet Dood ……. s Slechts Verre …….. is Hij, ……. eten Is


Hier Rust F. Jans Overleden 2 Nov. 1918 Oud 40 Jaren


Hier Rust Mevrouw Selphisma Amanupinnjo Geb. Siamela Oud 40 Jaar Geb. 19 Nov. 1881 Overl. 22 Juni 1922


Hier Rust Herminne, Antoniette, Carolina, Eikema Geboren 6 Mei 1893 Overleden 25 Januari 1907


Hier Rust Lia Gherh Gebr. 9 - 5 - 1886 Overl. 15 Febr. 1951


Hier Rust Vrouwe Irene Mathilde Ehrencron Gelieide Echtgenoote van L.I.H.R Scipio Blume Geb. 28 Januari 1883 Overl. 10 Maret 1928 Rust Zacht Lieve Doode


Liefde Over Wint Acces J.J.A Brower Gebr. Juli 1898 Overl. 3 Maart 1923 Mijnbouwkundig Opzichfer Rust Zacht Lieve Joop


Hier Ruht In Gott Agnes Elisbeth Kliem Geb. Patt Geboren 20 - 1 - 1895 Zu Gelsenkirchen Gesturben 8 - 10 - 1935 Zu Pangkalpinang Ruhe In Vrieden


Hier Rust Mevrouw De Bie Overleden 18 Mei 1929 R.I.P


Mietske Homiee Fischer Geboren 3 Juni 1927 Overleden 5 Juli 1928 Rust Zacht Kleine Lieveling


LIEF AARTJE GEB. OVERL. 10 MAART 1941 J. DE KONING


HIER RUST Onze Geliefde Echtgenoot en Vader JAMES PERD. NELWAN Geb. Te Airmadidi 30.3.1898 Overl. Te P.Pinang 3.1.1941 Rest In Vrede


HIER RUST MIJN LIEVE VROUW EMMY BRONSDIJK BLUMENTHAL Geb. 29 Mei 1921 Te Batavia Overl. 24 October 1946 Te Soengailiat


HIE…….MIJN LIEVE ZORGZAME VROUW MARIANNE VOGEL QUEYSEN geb. 12 - 11 - 1911 overl. 18 - 1 - 1951


HIER RUST MIJN GELIEFDE MAN EN VADER MARINUS FRANSISCUS PAANS Geb. 28 Mei 1906 Te Werkendam Overl. 2 Sept. 1954 Pangkalpinang Rust Zacht Lieve Paps


HIER RUST MIJN OUVERGETELIJKE MAN ONZE LIEVE ZORGZAME PAPPIE BERT KUYT Geb. 3 Juli 1913 Overl. 22 Sept. 1950
LABORES VITAE AEQUO ANIMO TULISSE HOMINIBUS HONOR


L.V.D VLIES Geb. 7 - 8 - 97 Overleden 9 - 5 - 43


………RIENETTE MARIA ANNA LEIJERINCK GEBOREN 2 DECEMBER 1894 OVERLEDEN 28 JULI 1895
Share:

LOKASI TENGGELAMNYA KAPAL JEPANG PADA PERANG DUNIA II DI PERAIRAN INDONESIA



Latar Belakang
Perang Dunia II di kawasan Pasifik dan Asia berawal dari serangan pasukan AL kekaisaran Jepang (Imperial Japanese Naval) ke Pangkalan AL Amerika di Pearl Harbor, Hawaii. Peristiwa yang terjadi pada tanggal 7 Desember 1942 kemudian menimbulkan perang antara Jepang dan sekutu yang tergabung dalam American-Britain-Ducth-Australian Command (ABDACOM). Pertempuran dahsyat terjadi di darat, laut dan udara. Perang berakhir setelah Jepang menyerah akibat dibom Atomnya Hiroshima dan Nagasaki.

Penyerangan bala tentara Jepang ke wilayah Indonesia mendapatkan perlawanan yang sengit dari sekutu. Invasi Jepang ke Indonesia melalui tiga jalur, yaitu Selat Karimata dari arah Barat, Selat Makassar dari arah Tengah, dan Perairan Maluku dari arah Timur. Peperangan yang melibatkan kapal-kapal laut terjadi antara lain di Selat Makassar, Selat Badung, Laut Jawa, dan Selat Sunda. Pada peristiwa tersebut pasukan Jepang berhasil mengalahkan pasukan sekutu. Beberapa kapal perang dari kedua belah pihak tenggelam.

Kapal-kapal Jepang yang menjadi korban keganasan perang kemudian terkubur di perairan Indonesia. Lokasinya tersebar di Perairan Barat dan Timur Indonesia. Batas antara keduanya sering disebut sebagai Garis Wallace sesuai dengan nama ekspedisi yang pernah dilakukan oleh Wallace. Lokasinya berada di Selat Makassar yang memisahkan Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi.Kapal-kapal Jepang yang tenggelam di perairan Indonesia dapat diketahui dari internet dan masyarakat nelayan yang tinggal di tepi pantai. Hal terakhir didapatkan penulis ketika berada di Desa Tanjung Labu, Pulau Lepar, Kabupaten Bangka Selatan. Propinsi Bangka-Belitung. Masyarakat disana menyebutkan adanya kapal Jepang di perairan antara Pulau Lepar dan Pulau Pongok. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengungkap keberadaan kapal-kapal Jepang yang tenggelam di perairan Barat Indonesia berdasarkan data-data yang diperoleh dari internet dengan harapan dapat diidentifikasi dan lebih lanjut dilakukan upaya pelestariannya.

Lokasi Kapal Jepang yang Tenggelam

Gelombang serangan pasukan Jepang pertama kali menyerang Tarakan. Tarakan penting bagi Jepang karena terdapat 700 sumur dan kilang minyak serta lapangan terbang. Setelah menguasai Tarakan, maka pasukan yang lebih besar berangkat dari Davao, Filipina. Armada kapal angkatan laut di bawah komando Wakil Laksamana Ibo Takahashi bertugas melakukan pendaratan pasukan di Manado, Kendari, Ambon, Makassar, Timor dan Bali. Konvoi mendapat pengawalan dari kapal-kapal di bawah komando Laksamana Muda Raizo Tanaka berkekuatan 12 kapal perusak, 2 kapal angkut pesawat, 5 kapal penjelajah, 4 kapal patrol, 5 kapal penyapu ranjau, dan 3 kapal pemburu kapal selam. Armada lainnya merupakan armada pasukan amfibi yang berangkat dari Teluk Cam Ranh, Indochina (Vietnam). Pasukan di bawah komando Wakil Laksamana Jisaburo Ozawa berkekuatan 22 kapal pengangkut, 7 kapal penjelajah, 11 kapal perusak, dan kapal induk Ryujo yang membawa divisi udara ke-3. Pasukan ini bertugas melakukan penyerangan ke Malaya, Singapura, Sumatera, dan Jawa bagian Barat. Kemenangan gemilang diraih pasukan kekaisaran Jepang dalam pertempuran di Manado, Balikpapan, Ambon, Selat Makassar, Palembang, Selat Badung, Laut Jawa, dan Selat Sunda. Namun pertempuran-pertempuran dalam rangka menguasai sumber alam di Indonesia itu mengakibatkan kerugian jiwa dan material seperti tewasnya para tentara, tertembaknya pesawat, dan tenggelamnya kapal.

Suatu hal yang meggembirakan sekali bahwa saya dapat menyaksikan secara langsung salah satu kapal Jepang yang tenggelam di Selat Makassar pada kedalaman 30 meter ketika sedang mengikuti pelatihan bawah air yang dilaksanakan oleh Direktorat Peninggalan Bawah Air, Depbudpar pada tahun 2006. Namun sangat disayangkan bahwa saat itu dijumpai adanya kegiatan pengrusakan dengan cara pengambilan besi kapal yang dilakukan oleh penyelam tradisional dengan menggunakan kompresor sebagai alat bantu pernafasan. Badan kapal telah banyak yang hilang dan meninggalkan bagian yang utuh dibagian depan saja karena disana masih terdapat tumpukan bom yang tersusun rapih.Mungkinkah itu adalah kapal perusak Natsushio yang tenggelam oleh torpedo kapal selam USS S-37 (SS-142) di koordinat 05o10’S, 119o24’E. Kalau bukan, kapal perang Jepang yang manakah itu. Pertanyaan tersebut yang harus dicarikan jawabannya.

Data-data yang diperoleh dari internet menunjukkan bahwa banyak sekali Kapal AL Jepang (Japanese Naval Vessel) maupun Kapal Niaga Jepang (Japanese Merchant Vessel) yang tenggelam di perairan Indonesia. Jumlahnya mencapai sekitar 175 kapal terdiri dari 44 kapal AL dan 131 kapal Niaga Jepang.Hasil pemilahan lokasi kapal tenggelam berdasarkan titik koordinat wilayah Perairan Barat Indonesia memperoleh jumlah 20 kapal AL dan 49 kapal Niaga. Sementara kapal tenggelam di Perairan Timur Indonesia berjumlah 24 Kapal AL dan 82 Kapal Niaga. Berdasarkan angka-angka itu, maka dapat disimpulkan bahwa jumlah kapal Jepang yang tenggelam di Perairan Timur Indonesia lebih banyak dibandingkan Perairan Barat Indonesia.

Data kapal tenggelam yang termasuk Kapal AL Jepang berjumlah 44 buah terdiri dari 10 destroyer, 11 minesweeper, 2 frigate, 2 submarine, 1 torpedo boat, 2 tank landing ship, 2 minelayer, 1 seaplane tender, 8 special submarine chaser, 1 yacht, dan 3 cruiser. Kapal-kapal tersebut tenggelam sebagian besar disebabkan serangan dari submarine berjumlah 26 kapal, army craft berjumlah 7 kapal, mine berjumlah 3 kapal, aircraft berjumlah 2 buah, surface craft berjumlah 1 kapal, dan army mine berjumlah 1 kapal.Sementara itu data Kapal Niaga Jepang yang tenggelam di perairan Indonesia berjumlah 131 kapal terdiri dari 78 cargo, 21 passenger-cargo, 17 tanker, 6 converted tender, 3 converted net tender, 2 converted seaplane tender, 1 converted submarine tender, dan 1 transport. Pada umumnya tenggelam disebabkan oleh submarine berjumlah 81 kapal. Penyebab lainnya adalah army aircraft berjumlah 16 kapal, marine casualty berjumlah 6 kapal, aircraft berjumlah 6 kapal, surface craft berjumlah 5 kapal, navy land-based aircraft berjumlah 5 kapal, navy carrier-base aircraft, navy aircraft, dan army mine masing-masing berjumlah 1 kapal. Sedangkan tenggelamnya Inabasan Maru Sakura Maru, dan Horai Maru disebabkan oleh berbagai senjata yang berasal dari army aircraft, aircraft, dan surface craft.
Berikut ini uraian sebagian kapal-kapal Jepang yang tenggelam di Perairan Indonesia yang berhasil ditelusuri melalui internet.

1. Kapal Selam I-30
I-30 adalah kapal selam kelas B1 di AL Kekaisaran Jepang. I-30 diselesaikan di markas AL Kure. Kapal ini berpartisipasi dalam sebuah misi Yanagi yang bertujuan menghubungkan Jerman Nazi dan Jepang oleh kapal selam. Kapal selam I-30 merupakan kapal selam pertama Jepang yang mencapai Eropa dan markas kapal selam U-Boat Jerman di Lorient Prancis pada tahun 1942. I-30 membawa pulang beragam informasi dan teknologi seperti radar, meriam anti udara performa tinggi dan beragam cetak biru. Pada tanggal 13 Oktober 1942 ketika keluar dari dari pelabuhan Singapura menabrak sebuah ranjau yang disebar Inggris dan tenggelam. Komandan Endo dan 96 kru selamat sedangkan 13 lainnya hilang. Penyelam-penyelam dari unit perbaikan Angkatan Laut No. 101 berhasil meyelamatkan muatan berharganya antara lain senjata 20 mm dan cetak biru radar.

2. Kapal Angkut Pesawat Notoro
Notoro merupakan sebuah kapal angkut pesawat (aircraft carrier) yang mengangkut 12 pesawat. Kapal beratnya 14.050 ton, panjang 138,88 meter, lebar 17,68 meter, kecepatan maksimum 12 knot, dan muatan 155 kru. Mesin menggunakan mesin ekpansi tiga poros dan 4 panci. Persenjataan yang dimiliki 2 senapan 45/(4,7 inchi) dan 2 senapan AA 40/(2 inchi). Pada tanggal 5 Nopember 1944 tenggelam oleh pesawat Angkatan Darat Amerika di 01o18’N, 103o52’E

3. Kapal Perusak Shimotsuki
Shimotsuki berarti Nopember merupakan sebuah kapal perusak kelas Akizuki di AL kekaisaran Jepang. Kapal dibangun oleh galangan Nagasaki Mitsubishi pada tanggal 6 Juli 1942 dan diluncurkan pada tanggal 7 April 1943. Pada tanggal 31 maret 1944 bertugas di skuadron kapal perusak 11.Karakteristik kapal beratnya 2,743 ton dalam kondisi standard an 3,759 dalam muatan penuh, panjangnya 134,2 meter, balok 11,6 meter, rangka 4,15 meter, kecepatan 33 knot dan memuat 263 orang. Pada Maret 1944 persenjataan terdiri dari 8 senapan DP kaliber 65/(4 inchi), 25 senapan AA 25 mm, 4 tabung torpedo 24 inchi, 8 torpedo tipe 93, dan 56 bom laut tipe 95. Sedangkan Juli 1944 senapan AA 25 mm ditambah 10 buah sehingga menjadi 35 buah.
Pada tanggal 25 Nopember 1944 terkena torpedo yang diluncurkan oleh USS Cavalla (SS-244) dan tenggelam di 410 km sebelah Timur-Timur laut Singapura dengan korban jiwa yang banyak termasuk Letnan Komodor Kenji Hatano. Lokasi tenggelamnya kapal di koordinat 2o21’N, 107o20’E

4. Kapal Penjelajah Ashigara
Ashigara adalah sebuah kapal penjelajah berat kelas Myoko di AL Kekaisaran Jepang. Nama tersebut merupakan nama sebuah gunung diperbatasan Kanagawa dan Shizuoka yang juga disebut sebagai Gunung Kintoki. Kapal-kapal lainnya yang sekelas adalah Myoko, Nachi, dan Haguro. Kapal dikerjakan di galangan kapal Kawasaki di Kobe. Pembuatannya pada tahun 1924 dan diluncurkan tahun 1928. Klasifikasi kapal beratnya 13.500 ton, panjang, 203,76 meter, balok 19 meter, rangka 5,03 meter, kecepatan 35,5 knot dan muatan 920-970. Tumpangannya 1 buah pesawat terbang. Persenjataan terdiri dari 10 senapan 203 mm, 8 senapan 127 mm, 2 senapan mesin 13 mm, dan 12 tabung torpedo 610 mm.
Pada Pertempuran Laut Jawa termasuk yang mengakibatkan tenggelamnya kapal penjelajah HMS Exeter dan kapal perusak HMS Encounter. Pada Pertempuran Teluk Leyte tanggal 24 Oktober 1944 dibawah komando Kapten Hayao Miura tergabung dalam pasukan bersama kapal penjelajah Nachi dan 8 kapal perusak. Pada bulan Desember 1944 mendapatkan serangan udara sehingga mengalami kerusakan oleh sejumlah bom ketika mengambil bagian dalam serangan terhadap pendaratan tentara Amerika di Mindoro, Filipina.
Pada tanggal 8 Juni 1945 meninggalkan Batavia menuju Singapura membawa 1.600 tentara dengan dikawal kapal perusak Kamikaze. Di Selat Bangka kedua kapal mendapat serangan tiga kapal selam sekutu, Blueback, Trenchant, dan Stygian. Kamikaze menyerang Trenchant dengan tembakan dan bom laut. Ashigara terkena serangan torpedo sehingga tenggelam. Komandan Laksamana Muda Hayao Miura bersama 400 tentara dan 853 kru diselamatkan oleh Kamikaze.

Penutup
Internet merupakan sumber pengetahuan di dunia maya. Segala informasi yang bersifat positif dan negatif berada di dalamnya. Informasi mengenai peristiwa Perang Dunia II antara Jepang dan Sekutu sangat banyak. Data-data yang berkaitan dengan hal itu dapat diakses oleh siapa saja, dimanapun, dan kapanpun. Begitu pula mengenai data kapal tenggelam baik dari pihak Jepang maupun Sekutu.
Perang Dunia II menimbulkan penderitaan terhadap tentara yang terlibat langsung maupun masyarakat biasa. Bukan hanya korban jiwa tetapi juga korban material yang berupa peralatan tempur seperti tank, pesawat, dan kapal tempur. Perairan Indonesia menjadi saksi bisu pertempuran hebat yang terjadi antara kapal sekutu dan Jepang. Kapal-kapal tenggelam bersebaran hampir diseluruh tempat. Beberapa kapal telah diketahui keberadaannya, sedangkan sisanya masih misterius. Kapal-kapal tenggelam yang telah menjadi bangkai kapal (shipwreck) menjadi bukti sejarah yang tidak akan terlupakan.
Kapal-kapal Jepang yang tenggelam di perairan Indonesia merupakan salah satu "kekayaan" yang harus mendapat perlindungan. Kekayaan itu tidak luput dari penjarahan untuk diambil besinya dan barang yang terdapat didalamnya. Hilangnya kapal-kapal tenggelam yang mengandung sejarah akan sangat merugikan bagi pengembangan penelitian, pelestarian, dan pemanfaatan peninggalan bawah air.
Share:

Profile

Foto saya
AGUS SUDARYADI, arkeolog yang bekerja di Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi Wilayah Kerja Prop. Jambi, Sumsel, Bengkulu, dan Kep. Bangka-Belitung yang sering melakukan Jelajah Situs dalam rangka Pelestarian Cagar Budaya. Menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Situs adalah lokasi yang berada di darat dan/atau di air yang mengandung Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan atau Struktur Cagar Budaya sebagai hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian pada masa lalu. Pekerjaan tersebut memberikan saya kesempatan untuk menjelajahi pelosok negeri di Propinsi Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Kepulauan Bangka-Belitung. Pelosok karena lokasi yang kami datangi kebanyakan berada di luar kota, bahkan sampai masuk hutan. Maklum Cagar Budaya atau Diduga Cagar Budaya yang saya tuju sekarang berada di daerah yang jauh dari kota. Kegiatan yang memerlukan stamina dan mental yang kuat adalah dalam rangka pelestarian Cagar Budaya Bawah Air. Saya telah mengikuti pelatihan Arkeologi Bawah Air di dalam dan luar negeri, antara lain Makassar Sulsel, Pulau Bintan Kepri, Tulamben Bali, dan Karimunjawa Jateng serta Thailand dan Sri lanka.

Popular Posts

Recent Posts

Pages