• Arkeologi Bawah Air

    Negara Indonesia adalah negara yang besar dengan wilayah lautannya lebih luas daripada daratannya. Potensi lautannya menyimpan kekayaan peninggalan warisan bawah air yang sangat besar.

  • Arkeologi Islam

    Masjid Jamik telah ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor KM.10/PW.007/MKP/2004 tanggal 3 Maret 2004 tentang Penetapan Benteng Marlborough

  • Benteng Marlborough

    Lokasi Benteng Marlborough berdiri kokoh di tepi laut di atas sebuah dataran dengan ketinggian lebih kurang 8,5 meter di atas permukaan laut (dpl).

  • PELESTARIAN BENDA CAGAR BUDAYA: DAHULU DAN SEKARANG

    PendahuluanBangsa Indonesia yang memproklamirkan kemerdekaannya pada Tanggal 17 Agustus 1945 mempunyai latar sejarah yang sangat panjang, dimulai dari masa Prasejarah sampai dengan masa kolonial.

MAKAM BELANDA (Kerkhof) di Kota Pangkalpinang


Pendahuluan
Pulau Bangka kedatangan bangsa Eropa di mulai pada masa VOC sekitar abad 17 Masehi. Selanjutnya dengan ditemukannya kandungan timah pada tahun 1710 menjadi awal eksplorasi timah di Bangka. Berkembangnya pertambangan timah di Bangka memerlukan tenaga yang tidak sedikit. Kebutuhan tenaga kerja telah mendorong didatangkannya tenaga-tenaga dari Cina sebagai pekerja tambang. Tahun 1755 sebagai awal kedatangan pekerja Cina ke Bangka. Kekuasaan Belanda atas Bangka sempat terhenti tahun 1812-1816 ketika Inggris dapat mengalahkan Perancis dimana pada waktu itu Belanda dikuasai oleh Perancis. Namun berdasarkan perjanjian London (The Treaty of London) yang terjadi pada tahun 1814, maka daerah-daerah yang sebelumnya dikuasai oleh Belanda, termasuk Bangka dikembalikan lagi kepada Belanda. Pengaruh Eropa yang dibawa oleh Inggris dan Belanda masih dapat dilihat sampai sekarang yang berupa bangunan-bangunan kolonial.

Masa penguasaan Belanda di Bangka yang berlangsung lama telah meninggalkan bukti-bukti antara lain makam. Tempat pemakaman mereka yang disebut Kerkhof (artinya kuburan dalam Bahasa Belanda) dapat dijumpai di Kota Pangkalpinang, Sungailiat, Belitung, dan Mentok. Nasib kerkhof-kerkhof tersebut kondisinya cukup memprihatinkan dan terancam untuk digusur. Nasib tragis telah dialami oleh kerkhof di Mentok yang hanya menyisakan tugu dan telah menjadi sebuah lorong yang bernama Lorong Kerkhof.

Kerkhof di Kota Pangkalpinang sendiri telah mendapat perhatian, terlihat dari beberapa kegiatan yang pernah dilakukan oleh BP3 Jambi (Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi) dan Balar Palembang (Balai Arkeologi Palembang). Pada tahun 1996 dilakukan Pendokumentasian dan Survei Situs dan Benda Cagar Budaya di Kabupaten Bangka dan Kota Pangkalpinang. Berdasarkan survei diketahui bahwa telah banyak makam-makam yang rusak oleh tangan-tangan jahil, antara lain hilang dan pecahnya nisan-nisan yang terbuat dari marmer dan vandalisme yang berupa coretan-coretan dengan menggunakan cat semprot. Selain itu dari informasi juga diketahui bahwa beberapa makam telah dipindahkan oleh keluarganya ke tempat lain. Diperkirakan makam-makam tersebut berasal dari tahun 1902 sampai dengan tahun 1950-an.

Pada tahun 1998 dilakukan Pemotretan Situs dan Benda Cagar Budaya di Kecamatan Mentok dan Kotamadya Pangkalpinang, Kabupaten Bangka, Provinsi Sumatera Selatan. Pada tahun yang sama Balar Palembang melakukan Survei Tinggalan Arkeologi Kolonial di Pulau Bangka. Pada tahun 2003 dilakukan kegiatan Inventarisasi Benda Cagar Budaya di Kabupaten Belitung dan Pemantauan Pemeliharaan di Provinsi Bangka-Belitung. Pelestarian Kerkhof juga dilakukan dengan pemagaran dan penempatan juru pelihara. Namun dari semua kegiatan yang telah dilaksanakan itu belum ditindaklanjuti dengan kegiatan fisik seperti perbaikan makam dan penataan lingkungan pemakaman. Hal itu disebabkan belum adanya data yang lengkap. Selanjutnya untuk kelengkapan data tersebut dilakukanlah kegiatan Pemetaan, Penggambaran, dan Inventarisasi Makam Belanda (Kerkhof) di Kota Pangkalpinang.

Letak dan Lingkungan
Makam Belanda atau penduduk menyebutnya Kerkof atau Pendem Belanda secara administratif terletak di Jalan Hormen Maddati yang dahulunya bernama Jalan Sekolah, termasuk Kelurahan Melintang, Kecamatan Rangkui, Kota Pangkalpinang. Lokasi tepatnya berada di persimpangan Jalan Solihin GP dan Jalan Hormen Maddati. Secara astronomis terletak pada 02o07’971” Lintang Selatan dan 106o06’475” Bujur Timur.

Keletakan makam cukup jauh dari pusat kota atau sekitar rumah residen yang merupakan pemukiman Belanda pada masa itu. Dahulunya makam Belanda berlokasi di daerah pinggiran dan menempati tanah yang cukup luas. Namun selanjutnya terjadi pengurangan luasnya yang disebabkan pemukiman. Pemukiman itu juga menyebabkan dibongkarnya sejumlah makam. Hasil pemetaan terhadap tanah yang masih tersisa adalah 2.117,88 m2. Lingkungan makam dan sekitarnya telah dibatasi dengan pagar tembok yang dibangun pada tahun 1997. Bentuk pagar dibuat sederhana karena dimaksudkan hanya untuk pengamanan dari lingkungan sekitarnya.

Makam ini sekarang terletak di pemukiman yang yang cukup padat. Pada sisi timur dan selatan berbatasan dengan perumahan penduduk. Penduduk sekitarnya tampak kurang menjaga kebersihan, yaitu dengan membuang sampah ke dalam pemakaman. Selain itu di sisi utara menjadi tempat berjualan pedagang kaki lima dan bengkel motor. Bahkan bengkel tersebut membuat bangunan yang masuk ke dalam pemakaman. Hal-hal itu menyebabkan kotornya lingkungan pemakaman karena pembuangan sampah yang sembarangan.

Makam Belanda

Makam Belanda merupakan satu dari sekian banyak bukti sejarah yang terdapat di Kota Pangkalpinang. Keberadaan makam ini erat kaitannya dengan kehidupan orang-orang asing yang pernah hidup dan tinggal di masa sebelum Kemerdekaan. Pada tahun 1813 ketika Inggris berkuasa di Bangka, Inggris (East India Company) menjadikan Pangkalpinang salah satu distrik dari tujuh distrik eksplorasi timah selain Jebus, Klabat, Sungailiat, Merawang, Toboali, dan Belinyu. Sejak itu Pangkalpinang mulai terkenal sebagai Kota Timah dan kota kecil pusat kegiatan perdagangan dan jasa di Pulau Bangka. Pada masa kemudian, Belanda menjadikan Pangkalpinang sebagai basis kekuatan militer untuk menumpas perlawanan Rakyat Bangka. Berikutnya Belanda menjadikannya sebagai ibukota Karesidenan Bangka pada Tahun 1913.

Makam Belanda telah menjadi objek wisata sejarah dan budaya Kota Pangkalpinang. Hal itu menjadi modal untuk dimulainya pembenahannya yang selama ini kurang terawat. Kondisi makam cukup kotor dengan sampah-sampah yang dibuang oleh penduduk sekitarnya. Banyaknya pohon yang tumbuh juga menyebabkan banyak ranting atau daun yang berjatuhan. Bahkan terdapat beberapa pohon yang menyebabkan kerusakan pada makam. Kerusakan yang parah terjadi pada makam no. 79. Semak-semaknya juga tumbuh dengan cukup subur. Pembersihan kompleks makam yang dilakukan oleh juru pelihara tampaknya kurang maksimal. Lingkungan yang kotor juga pada bagian luar makam di sekitar pagar keliling. Disana terdapat juga sampah dan tanaman liar.

Makam yang berhasil didata berjumlah 102 makam. Makam-makam mempunyai bentuk dan ukuran yang bermacam-macam. Bentuk makam umumnya berbentuk persegi panjang dan terdiri dari beberapa susunan (undakan). Empat makam diantaranya mempunyai cungkup, yaitu makam no. 36, 44, 47, dan 61. Makam 47 merupakan makam yang cungkupnya paling bagus. Tiga cungkup lainnya mempunyai bentuk yang sama. Bentuk dasar nisan-nisan terdiri dari bentuk segi empat, segi lima dan segi enam. Variasinya berupa bulatan dibagian atas. Orientasi makam mengarah timur laut - barat daya. Arah hadap makam yang berbahasa Belanda dan Bahasa Indonesia menghadap timur laut. Sedangkan makam yang berbahasa Jepang umumnya sebaliknya.

Makam-makam sebagian besar telah mengalami kerusakan. Makam yang masih dalam kondisi baik berjumlah 21 buah (20 %). Makam yang dikategorikan mengalami kerusakan ringan berjumlah 50 buah (49 %) dan kerusakan parah berjumlah 28 buah atau 27 %. Makam yang telah dibongkar berjumlah 2 buah. Pembongkaran makam dilakukan pada bulan Oktober 2004. Selain itu terdapat satu buah prasasti yang tidak diketahui asal lokasinya.

Beberapa makam masih terdapat prasasti yang menyebutkan nama yang dimakamkan, tanggal lahir, tanggal meninggal, dan kalimat-kalimat tertentu. Pada umumnya makam telah hilang pada bagian prasastinya. Makam yang masih mempunyai prasasti berjumlah 30 buah (29 %). Prasasti dituliskan pada marmer, batu andesit, dan dinding. Sistem penulisannya berupa huruf timbul dan huruf dengan cara memahat. Kondisi prasasti telah mengalami kerusakan, antara lain hilang, kotor, ditumbuhi lumut, patah, aus, retak, dan disemprot cat. Nama-nama yang dimakamkan, yaitu 25 berbahasa Belanda, 10 berbahasa Jepang, dan 3 berbahasa Indonesia. Makam yang berbahasa Indonesia dilihat dari namanya berasal dari Indonesia Timur. Berdasarkan angka tahun yang terdapat pada nisan diketahui bahwa makam yang tertua berangka tahun 1800 dan yang termuda berangka tahun 1954. Makam-makam yang berangka tahun lebih tua lokasinya berada di sebelah timur laut. Semakin ke barat, maka makamnya semakin muda. Pada sebuah makam ditemukan adanya dua angka tahun meninggalnya dalam satu makam, yaitu pada makam no. 13 yang berangka tahun meninggalnya (overleden), yaitu 7 Oct. 1800 dan 2 Januari 1902 dengan nama Freetje en Sjarl Bernasco (Lihat Tabel No. 1)

Penutup
Kota Pangkalpinang mempunyai sejarah yang cukup panjang. Hal tersebut dibuktikan oleh peninggalan-peninggalan sejarahnya yang masih dapat kita saksikan sampai sekarang. Bukti-bukti sejarah akan mendukung identitas Kota Pangkalpinang di masa yang akan datang. Sebaliknya kehilangan bukti-bukti sejarah akan mengurangi identitasnya. Sejarah Kota Pangkalpinang tergambarkan dengan jelas antara lain pada sebuah tempat yang bernama Makam Belanda yang dikenal pula oleh masyarakat sebagai Kerkof atau Pendem Belanda. Pada Makam Belanda ini dapat dijumpai beberapa hal yang dapat ditelusuri, yaitu mengenai nama, tanggal lahir dan meninggal, serta asal orang yang dimakamkan. Makam-makam tersebut diletakkan secara teratur dengan suatu barisan. Tampaknya barisan makam di sebelah timur laut berangka tahun lebih tua atau dengan kata lain semakin ke selatan maka makam-makam tersebut berangka tahun lebih muda. Hal itu menandakan bahwa awal pemakaman jenazah di mulai di sebelah timur laut kemudian berkembang ke selatan.

Makam-makam sekarang kondisinya sebagian besar telah mengalami kerusakan. Makam yang masih dalam kondisi baik berjumlah 21 buah (20 %). Makam yang dikategorikan mengalami kerusakan ringan berjumlah 50 buah (49 %) dan kerusakan parah berjumlah 28 buah atau 27 %. Makam yang telah dibongkar berjumlah 2 buah. Pembongkaran makam dilakukan pada bulan Oktober 2004 atas permintaan ahli warisnya untuk dimakamkan kembali di Jakarta. Selain itu terdapat satu buah prasasti yang tidak diketahui asal lokasinya. Agar tidak terjadi kerusakan yang lebih parah, maka perlu dilakukan perbaikan dan pemeliharaan serta perlu dilakukan penataan lingkungannya.


DAFTAR PUSTAKA

Aryandini Novita, dkk.
1998 Laporan Penelitian Arkeologi Survei Tinggalan Arkeologi Kolonial di Pulau Bangka, Balai Arkeologi Palembang

Anonim
Booklet Welcome to Pangkalpinang, Kota Pangkal Kemenangan, Pemerintah Kota Pangkalpinang, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata

Junus Satrio Atmodjo, Drs., dkk.,
1996 Laporan Pendokumentasian dan Survei Situs dan Benda Cagar Budaya di Kabupaten Bangka, Provinsi Sumatera Selatan, Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Jambi, Sumatera Selatan, dan Bengkulu,

Sri Patmiarsi R., Dra.,
1996 Laporan Pendokumentasian dan Survei Situs dan Benda Cagar Budaya di Kabupaten Bangka, Provinsi Sumatera Selatan, Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Jambi, Sumatera Selatan, dan Bengkulu,



DAFTAR PRASASTI BERBAHASA BELANDA
DI KERKHOF KOTA PANGKALPINANG


Hier Rust E.K.A Coldenhoff Overleden 11 Nov. Oud 39 Jaren


Hier Rust Onze Jongste Heveling Henk Runschotel Geb. Pangkalpinang 22 - 8 - 20 Overl. 28 - 6 - 21


Hier Rust In Vrede Mev. V. Scholtz Geb. E. Rossmann Overl. 19 - 4 - 1914


Hier Rust Cornelia Suzanna Pijloo Geb. 29 Juli 1915 Overl. 26 November 1915 Jong Gestorven Vroeg Bij God


Franscarel Upielsna Geboren 6.4.11 Overleden 3.5.11


Rust Zacht Mijn Lieve Shaapjes Freetje en Sjarl Bernasco Overl. 7 Oct. 1800 Overl. 2 Jan.1902


Hier Rust Mijn Geliefde Echtgenoot P.W Lensink Oud 44 Jaar Overl. 8 Nov. 1918 …….. is Niet Dood ……. s Slechts Verre …….. is Hij, ……. eten Is


Hier Rust F. Jans Overleden 2 Nov. 1918 Oud 40 Jaren


Hier Rust Mevrouw Selphisma Amanupinnjo Geb. Siamela Oud 40 Jaar Geb. 19 Nov. 1881 Overl. 22 Juni 1922


Hier Rust Herminne, Antoniette, Carolina, Eikema Geboren 6 Mei 1893 Overleden 25 Januari 1907


Hier Rust Lia Gherh Gebr. 9 - 5 - 1886 Overl. 15 Febr. 1951


Hier Rust Vrouwe Irene Mathilde Ehrencron Gelieide Echtgenoote van L.I.H.R Scipio Blume Geb. 28 Januari 1883 Overl. 10 Maret 1928 Rust Zacht Lieve Doode


Liefde Over Wint Acces J.J.A Brower Gebr. Juli 1898 Overl. 3 Maart 1923 Mijnbouwkundig Opzichfer Rust Zacht Lieve Joop


Hier Ruht In Gott Agnes Elisbeth Kliem Geb. Patt Geboren 20 - 1 - 1895 Zu Gelsenkirchen Gesturben 8 - 10 - 1935 Zu Pangkalpinang Ruhe In Vrieden


Hier Rust Mevrouw De Bie Overleden 18 Mei 1929 R.I.P


Mietske Homiee Fischer Geboren 3 Juni 1927 Overleden 5 Juli 1928 Rust Zacht Kleine Lieveling


LIEF AARTJE GEB. OVERL. 10 MAART 1941 J. DE KONING


HIER RUST Onze Geliefde Echtgenoot en Vader JAMES PERD. NELWAN Geb. Te Airmadidi 30.3.1898 Overl. Te P.Pinang 3.1.1941 Rest In Vrede


HIER RUST MIJN LIEVE VROUW EMMY BRONSDIJK BLUMENTHAL Geb. 29 Mei 1921 Te Batavia Overl. 24 October 1946 Te Soengailiat


HIE…….MIJN LIEVE ZORGZAME VROUW MARIANNE VOGEL QUEYSEN geb. 12 - 11 - 1911 overl. 18 - 1 - 1951


HIER RUST MIJN GELIEFDE MAN EN VADER MARINUS FRANSISCUS PAANS Geb. 28 Mei 1906 Te Werkendam Overl. 2 Sept. 1954 Pangkalpinang Rust Zacht Lieve Paps


HIER RUST MIJN OUVERGETELIJKE MAN ONZE LIEVE ZORGZAME PAPPIE BERT KUYT Geb. 3 Juli 1913 Overl. 22 Sept. 1950
LABORES VITAE AEQUO ANIMO TULISSE HOMINIBUS HONOR


L.V.D VLIES Geb. 7 - 8 - 97 Overleden 9 - 5 - 43


………RIENETTE MARIA ANNA LEIJERINCK GEBOREN 2 DECEMBER 1894 OVERLEDEN 28 JULI 1895
Share:

LOKASI TENGGELAMNYA KAPAL JEPANG PADA PERANG DUNIA II DI PERAIRAN INDONESIA



Latar Belakang
Perang Dunia II di kawasan Pasifik dan Asia berawal dari serangan pasukan AL kekaisaran Jepang (Imperial Japanese Naval) ke Pangkalan AL Amerika di Pearl Harbor, Hawaii. Peristiwa yang terjadi pada tanggal 7 Desember 1942 kemudian menimbulkan perang antara Jepang dan sekutu yang tergabung dalam American-Britain-Ducth-Australian Command (ABDACOM). Pertempuran dahsyat terjadi di darat, laut dan udara. Perang berakhir setelah Jepang menyerah akibat dibom Atomnya Hiroshima dan Nagasaki.

Penyerangan bala tentara Jepang ke wilayah Indonesia mendapatkan perlawanan yang sengit dari sekutu. Invasi Jepang ke Indonesia melalui tiga jalur, yaitu Selat Karimata dari arah Barat, Selat Makassar dari arah Tengah, dan Perairan Maluku dari arah Timur. Peperangan yang melibatkan kapal-kapal laut terjadi antara lain di Selat Makassar, Selat Badung, Laut Jawa, dan Selat Sunda. Pada peristiwa tersebut pasukan Jepang berhasil mengalahkan pasukan sekutu. Beberapa kapal perang dari kedua belah pihak tenggelam.

Kapal-kapal Jepang yang menjadi korban keganasan perang kemudian terkubur di perairan Indonesia. Lokasinya tersebar di Perairan Barat dan Timur Indonesia. Batas antara keduanya sering disebut sebagai Garis Wallace sesuai dengan nama ekspedisi yang pernah dilakukan oleh Wallace. Lokasinya berada di Selat Makassar yang memisahkan Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi.Kapal-kapal Jepang yang tenggelam di perairan Indonesia dapat diketahui dari internet dan masyarakat nelayan yang tinggal di tepi pantai. Hal terakhir didapatkan penulis ketika berada di Desa Tanjung Labu, Pulau Lepar, Kabupaten Bangka Selatan. Propinsi Bangka-Belitung. Masyarakat disana menyebutkan adanya kapal Jepang di perairan antara Pulau Lepar dan Pulau Pongok. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengungkap keberadaan kapal-kapal Jepang yang tenggelam di perairan Barat Indonesia berdasarkan data-data yang diperoleh dari internet dengan harapan dapat diidentifikasi dan lebih lanjut dilakukan upaya pelestariannya.

Lokasi Kapal Jepang yang Tenggelam

Gelombang serangan pasukan Jepang pertama kali menyerang Tarakan. Tarakan penting bagi Jepang karena terdapat 700 sumur dan kilang minyak serta lapangan terbang. Setelah menguasai Tarakan, maka pasukan yang lebih besar berangkat dari Davao, Filipina. Armada kapal angkatan laut di bawah komando Wakil Laksamana Ibo Takahashi bertugas melakukan pendaratan pasukan di Manado, Kendari, Ambon, Makassar, Timor dan Bali. Konvoi mendapat pengawalan dari kapal-kapal di bawah komando Laksamana Muda Raizo Tanaka berkekuatan 12 kapal perusak, 2 kapal angkut pesawat, 5 kapal penjelajah, 4 kapal patrol, 5 kapal penyapu ranjau, dan 3 kapal pemburu kapal selam. Armada lainnya merupakan armada pasukan amfibi yang berangkat dari Teluk Cam Ranh, Indochina (Vietnam). Pasukan di bawah komando Wakil Laksamana Jisaburo Ozawa berkekuatan 22 kapal pengangkut, 7 kapal penjelajah, 11 kapal perusak, dan kapal induk Ryujo yang membawa divisi udara ke-3. Pasukan ini bertugas melakukan penyerangan ke Malaya, Singapura, Sumatera, dan Jawa bagian Barat. Kemenangan gemilang diraih pasukan kekaisaran Jepang dalam pertempuran di Manado, Balikpapan, Ambon, Selat Makassar, Palembang, Selat Badung, Laut Jawa, dan Selat Sunda. Namun pertempuran-pertempuran dalam rangka menguasai sumber alam di Indonesia itu mengakibatkan kerugian jiwa dan material seperti tewasnya para tentara, tertembaknya pesawat, dan tenggelamnya kapal.

Suatu hal yang meggembirakan sekali bahwa saya dapat menyaksikan secara langsung salah satu kapal Jepang yang tenggelam di Selat Makassar pada kedalaman 30 meter ketika sedang mengikuti pelatihan bawah air yang dilaksanakan oleh Direktorat Peninggalan Bawah Air, Depbudpar pada tahun 2006. Namun sangat disayangkan bahwa saat itu dijumpai adanya kegiatan pengrusakan dengan cara pengambilan besi kapal yang dilakukan oleh penyelam tradisional dengan menggunakan kompresor sebagai alat bantu pernafasan. Badan kapal telah banyak yang hilang dan meninggalkan bagian yang utuh dibagian depan saja karena disana masih terdapat tumpukan bom yang tersusun rapih.Mungkinkah itu adalah kapal perusak Natsushio yang tenggelam oleh torpedo kapal selam USS S-37 (SS-142) di koordinat 05o10’S, 119o24’E. Kalau bukan, kapal perang Jepang yang manakah itu. Pertanyaan tersebut yang harus dicarikan jawabannya.

Data-data yang diperoleh dari internet menunjukkan bahwa banyak sekali Kapal AL Jepang (Japanese Naval Vessel) maupun Kapal Niaga Jepang (Japanese Merchant Vessel) yang tenggelam di perairan Indonesia. Jumlahnya mencapai sekitar 175 kapal terdiri dari 44 kapal AL dan 131 kapal Niaga Jepang.Hasil pemilahan lokasi kapal tenggelam berdasarkan titik koordinat wilayah Perairan Barat Indonesia memperoleh jumlah 20 kapal AL dan 49 kapal Niaga. Sementara kapal tenggelam di Perairan Timur Indonesia berjumlah 24 Kapal AL dan 82 Kapal Niaga. Berdasarkan angka-angka itu, maka dapat disimpulkan bahwa jumlah kapal Jepang yang tenggelam di Perairan Timur Indonesia lebih banyak dibandingkan Perairan Barat Indonesia.

Data kapal tenggelam yang termasuk Kapal AL Jepang berjumlah 44 buah terdiri dari 10 destroyer, 11 minesweeper, 2 frigate, 2 submarine, 1 torpedo boat, 2 tank landing ship, 2 minelayer, 1 seaplane tender, 8 special submarine chaser, 1 yacht, dan 3 cruiser. Kapal-kapal tersebut tenggelam sebagian besar disebabkan serangan dari submarine berjumlah 26 kapal, army craft berjumlah 7 kapal, mine berjumlah 3 kapal, aircraft berjumlah 2 buah, surface craft berjumlah 1 kapal, dan army mine berjumlah 1 kapal.Sementara itu data Kapal Niaga Jepang yang tenggelam di perairan Indonesia berjumlah 131 kapal terdiri dari 78 cargo, 21 passenger-cargo, 17 tanker, 6 converted tender, 3 converted net tender, 2 converted seaplane tender, 1 converted submarine tender, dan 1 transport. Pada umumnya tenggelam disebabkan oleh submarine berjumlah 81 kapal. Penyebab lainnya adalah army aircraft berjumlah 16 kapal, marine casualty berjumlah 6 kapal, aircraft berjumlah 6 kapal, surface craft berjumlah 5 kapal, navy land-based aircraft berjumlah 5 kapal, navy carrier-base aircraft, navy aircraft, dan army mine masing-masing berjumlah 1 kapal. Sedangkan tenggelamnya Inabasan Maru Sakura Maru, dan Horai Maru disebabkan oleh berbagai senjata yang berasal dari army aircraft, aircraft, dan surface craft.
Berikut ini uraian sebagian kapal-kapal Jepang yang tenggelam di Perairan Indonesia yang berhasil ditelusuri melalui internet.

1. Kapal Selam I-30
I-30 adalah kapal selam kelas B1 di AL Kekaisaran Jepang. I-30 diselesaikan di markas AL Kure. Kapal ini berpartisipasi dalam sebuah misi Yanagi yang bertujuan menghubungkan Jerman Nazi dan Jepang oleh kapal selam. Kapal selam I-30 merupakan kapal selam pertama Jepang yang mencapai Eropa dan markas kapal selam U-Boat Jerman di Lorient Prancis pada tahun 1942. I-30 membawa pulang beragam informasi dan teknologi seperti radar, meriam anti udara performa tinggi dan beragam cetak biru. Pada tanggal 13 Oktober 1942 ketika keluar dari dari pelabuhan Singapura menabrak sebuah ranjau yang disebar Inggris dan tenggelam. Komandan Endo dan 96 kru selamat sedangkan 13 lainnya hilang. Penyelam-penyelam dari unit perbaikan Angkatan Laut No. 101 berhasil meyelamatkan muatan berharganya antara lain senjata 20 mm dan cetak biru radar.

2. Kapal Angkut Pesawat Notoro
Notoro merupakan sebuah kapal angkut pesawat (aircraft carrier) yang mengangkut 12 pesawat. Kapal beratnya 14.050 ton, panjang 138,88 meter, lebar 17,68 meter, kecepatan maksimum 12 knot, dan muatan 155 kru. Mesin menggunakan mesin ekpansi tiga poros dan 4 panci. Persenjataan yang dimiliki 2 senapan 45/(4,7 inchi) dan 2 senapan AA 40/(2 inchi). Pada tanggal 5 Nopember 1944 tenggelam oleh pesawat Angkatan Darat Amerika di 01o18’N, 103o52’E

3. Kapal Perusak Shimotsuki
Shimotsuki berarti Nopember merupakan sebuah kapal perusak kelas Akizuki di AL kekaisaran Jepang. Kapal dibangun oleh galangan Nagasaki Mitsubishi pada tanggal 6 Juli 1942 dan diluncurkan pada tanggal 7 April 1943. Pada tanggal 31 maret 1944 bertugas di skuadron kapal perusak 11.Karakteristik kapal beratnya 2,743 ton dalam kondisi standard an 3,759 dalam muatan penuh, panjangnya 134,2 meter, balok 11,6 meter, rangka 4,15 meter, kecepatan 33 knot dan memuat 263 orang. Pada Maret 1944 persenjataan terdiri dari 8 senapan DP kaliber 65/(4 inchi), 25 senapan AA 25 mm, 4 tabung torpedo 24 inchi, 8 torpedo tipe 93, dan 56 bom laut tipe 95. Sedangkan Juli 1944 senapan AA 25 mm ditambah 10 buah sehingga menjadi 35 buah.
Pada tanggal 25 Nopember 1944 terkena torpedo yang diluncurkan oleh USS Cavalla (SS-244) dan tenggelam di 410 km sebelah Timur-Timur laut Singapura dengan korban jiwa yang banyak termasuk Letnan Komodor Kenji Hatano. Lokasi tenggelamnya kapal di koordinat 2o21’N, 107o20’E

4. Kapal Penjelajah Ashigara
Ashigara adalah sebuah kapal penjelajah berat kelas Myoko di AL Kekaisaran Jepang. Nama tersebut merupakan nama sebuah gunung diperbatasan Kanagawa dan Shizuoka yang juga disebut sebagai Gunung Kintoki. Kapal-kapal lainnya yang sekelas adalah Myoko, Nachi, dan Haguro. Kapal dikerjakan di galangan kapal Kawasaki di Kobe. Pembuatannya pada tahun 1924 dan diluncurkan tahun 1928. Klasifikasi kapal beratnya 13.500 ton, panjang, 203,76 meter, balok 19 meter, rangka 5,03 meter, kecepatan 35,5 knot dan muatan 920-970. Tumpangannya 1 buah pesawat terbang. Persenjataan terdiri dari 10 senapan 203 mm, 8 senapan 127 mm, 2 senapan mesin 13 mm, dan 12 tabung torpedo 610 mm.
Pada Pertempuran Laut Jawa termasuk yang mengakibatkan tenggelamnya kapal penjelajah HMS Exeter dan kapal perusak HMS Encounter. Pada Pertempuran Teluk Leyte tanggal 24 Oktober 1944 dibawah komando Kapten Hayao Miura tergabung dalam pasukan bersama kapal penjelajah Nachi dan 8 kapal perusak. Pada bulan Desember 1944 mendapatkan serangan udara sehingga mengalami kerusakan oleh sejumlah bom ketika mengambil bagian dalam serangan terhadap pendaratan tentara Amerika di Mindoro, Filipina.
Pada tanggal 8 Juni 1945 meninggalkan Batavia menuju Singapura membawa 1.600 tentara dengan dikawal kapal perusak Kamikaze. Di Selat Bangka kedua kapal mendapat serangan tiga kapal selam sekutu, Blueback, Trenchant, dan Stygian. Kamikaze menyerang Trenchant dengan tembakan dan bom laut. Ashigara terkena serangan torpedo sehingga tenggelam. Komandan Laksamana Muda Hayao Miura bersama 400 tentara dan 853 kru diselamatkan oleh Kamikaze.

Penutup
Internet merupakan sumber pengetahuan di dunia maya. Segala informasi yang bersifat positif dan negatif berada di dalamnya. Informasi mengenai peristiwa Perang Dunia II antara Jepang dan Sekutu sangat banyak. Data-data yang berkaitan dengan hal itu dapat diakses oleh siapa saja, dimanapun, dan kapanpun. Begitu pula mengenai data kapal tenggelam baik dari pihak Jepang maupun Sekutu.
Perang Dunia II menimbulkan penderitaan terhadap tentara yang terlibat langsung maupun masyarakat biasa. Bukan hanya korban jiwa tetapi juga korban material yang berupa peralatan tempur seperti tank, pesawat, dan kapal tempur. Perairan Indonesia menjadi saksi bisu pertempuran hebat yang terjadi antara kapal sekutu dan Jepang. Kapal-kapal tenggelam bersebaran hampir diseluruh tempat. Beberapa kapal telah diketahui keberadaannya, sedangkan sisanya masih misterius. Kapal-kapal tenggelam yang telah menjadi bangkai kapal (shipwreck) menjadi bukti sejarah yang tidak akan terlupakan.
Kapal-kapal Jepang yang tenggelam di perairan Indonesia merupakan salah satu "kekayaan" yang harus mendapat perlindungan. Kekayaan itu tidak luput dari penjarahan untuk diambil besinya dan barang yang terdapat didalamnya. Hilangnya kapal-kapal tenggelam yang mengandung sejarah akan sangat merugikan bagi pengembangan penelitian, pelestarian, dan pemanfaatan peninggalan bawah air.
Share:

SURVEI PENINGGALAN BAWAH AIR DI PULAU PONGOK, KABUPATEN BANGKA SELATAN

Survei Peninggalan bawah Air dilaksanakan pada tanggal 22 sd. 29 Oktober 2008. Kegiatan ini pertama kali dilakukan oleh BP3 Jambi diperairan Bangka-Belitung dengan mengundang tenaga bawah air dari Direktorat Peninggalan Bawah Air Jakarta, Balai Arkeologi Pelembang, dan BP3 Batusangkar.


Lokasi survei yang berada di sebelah Barat Pulau Pongok berjarak sekitar 1 km berhasil mendata dua buah kapal tenggelam yang letaknya tidak berjauhan pada kedalaman antara 18-20 meter. Kapal I berada di dekat karang yang bernama Batu mandi sehingga dinamakan Situs Batumandi. Kapal terbuat dari besi dengan kondisi sebagian besar telah rusak. Bagian yang tampak masih utuh adalah bagian haluan dan lambung sebelah kiri. Sedangkan bagian yang telah rusak adalah dek, bagian buritan dan bagian lambung kanan. Bagian lambung kanan rusak parah dikarenakan bagian tersebut yang menghantam karang. Pada lokasi ini dijumpai pula tiang yang cukup besar dan panjang. Ditemukan pula bongkahan batu bara. Orientasi kapal ke arah Timur Laut.


Kapal II berjarak sebelah Barat dari kapal I berjarak 200 meter. Posisi kapal dalam kondisi tertelungkup. Sebuah tiang yang besar dan panjang juga dijumpai pada kapal ini. Kapal terbelah dibagian tengah. Sebagian besar bagian kapal yang terbuat dari besi masih utuh kecuali bagian buritan yang telah terpotong-potong dikarenakan adanya pengambilan besi kapal. Orientasi kapal ke arah Timur Laut. Lokasi kapal dinamakan Situs Karanglucan.


Share:

USAT LIBERTY di Pantai Tulamben Bali


Ini merupakan kali kedua saya melakukan penyelaman di Pantai Tulamben, Kabupaten Karangasem, Propinsi Bali. Pengalaman pertama kali menyelam pada tahun 2005 dengan kejadian terbaliknya mobil yang dibawa dari Jambi setelah kegiatan selesai. Pada peristiwa itu mengakibatkan korban luka parah termasuk saya yang menderita patah tulang selangka dan korban jiwa dengan meninggalnya Bapak Gede Kartu yang saat itu sedang menyetir.

Penyelaman di Pantai Tulamben sekarang dalam rangka mengikuti kegiatan peningkatan kemampuan dan keterampilan pengelolaan peninggalan bawah air di bidang fotografi bawah air. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 26-30 Mei 2008 oleh Direktorat Peninggalan Bawah Air Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Rombongan yang terdiri dari panitia dan peserta mencapai 40 orang berasal dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala se Indonesia kecuali Aceh, Balai Arkeologi Yogyakarta, dan Dinas Pariwisata Kabupaten Selayar. Kegiatan pelatihan semacam ini telah saya ikuti setiap tahun sejak tahun 2003. Saya rasakan bahwa dengan adanya latihan seperti itu menambah pengetahuan kerja bawah air dan terutama menambah kemampuan selam. Perasaan takut dan was-was setiap akan menyelam semakin berkurang.

Pantai Tulamben merupakan lokasi penyelaman yang terkenal di Bali. Saya melihat banyak turis mancanegara yang menyelam. Di sana terdapat kapal tenggelam (ship wreck) USAT Liberty milik Amerika. Kapal itu adalah sebuah kapal perang yang digunakan untuk mengangkut peralatan perang. Pada tanggal 11 Januari 1942 ketika sedang berlayar di Selat Lombok ditorpedo oleh kapal selam Jepang seri I-166. Usaha penyelamatan tidak berhasil dan akhirnya kandas di Pantai Tulamben. Meletusnya Gunung Agung mengakibatkan kapal itu menjadi tenggelam dengan posisi miring di kedalaman antara 6 – 30 meter. Pantai Tulamben cukup unik karena pantainya berbatu koral dan berpasir hitam. Airnya jernih sehingga jarak pandang cukup jauh. Di sekitar ship wreck banyak ikannya, mereka seakan-akan menyambut kedatangan para penyelam.

Share:

PENINGGALAN JEPANG Pada Masa Perang Dunia II di Pulau Berhala


Pendahuluan
Pulau Berhala terletak di antara Propinsi Jambi dan Kepulauan Riau. Tepatnya berada di Pantai Timur Propinsi Jambi dan sebelah Selatan Pulau Lingga, Propinsi Kepulauan Riau. Pulau ini menjadi terkenal setelah status kewilayahannya dipertanyakan antara Propinsi Jambi dengan Kepulauan Riau. Mungkin tidak banyak orang yang mengetahui bahwa di pulau yang sedang menunggu status itu terdapat peninggalan yang menunjukkan dahsyatnya Perang Dunia II. Sebuah pulau kecil menjadi tempat tinggal tentara Jepang untuk menjaga jalur pelayaran penting yang melalui Selat Berhala.

Pulau Berhala dapat ditempuh selama 12 jam menggunakan kapal motor yang berangkat dari Pelabuhan Angsoduo, Kota Jambi. Perjalanannya memang cukup lama, tetapi kita tidak perlu susah-susah untuk berpindah dari satu perahu ke perahu lainnya. Perjalanan menyusuri Sungai Batanghari mempunyai keasyikan tersendiri. Kapal motor yang berjalan perlahan melewati beberapa desa yang berada di pinggir Sungai Batanghari. Perahu-perahu berukuran besar dan kecil lalu lalang di sepanjang sungai. Suasananya tentu lebih ramai di masa lampau, karena Sungai Batanghari ini pernah menjadi jalur transportasi penting di masa lalu dan merupakan jalan menuju ibukota Kerajaan di Dharmasraya. Rombongan Ekspedisi Pamalayu yang dikirim Raja Kertanegara dari Singosari mengarungi sungai ini membawa arca Amoghapasa dan Bhairawa.

Perjalanan menuju Pulau Berhala juga dapat ditempuh dengan melalui jalan darat ke Suakkandis dengan waktu tempuh 1,5 jam, dilanjutkan dengan speedboat ke Nipahpanjang selama 1 jam. Selanjutnya dari Nipahpanjang menyewa perahu ke Pulau Berhala. Perjalanannya dapat langsung menuju muara atau melalui Desa Sungai Itik. Kedua jalur tersebut sangat dipengaruhi oleh adanya pasang-surut, sehingga menyulitkan untuk melewatinya. Salah perhitungan akan menyebabkan kandasnya kapal. Di daerah muara Desa Sungai Itik dapat terlihat Pulau Berhala di kejauhan. Pulau yang menjadi tempat bersemayamnya Paduka Datuk Berhala didominasi oleh warna hijau dengan garis putih memanjang di pinggir pantai. Di depan Pulau berhala terdapat dua buah pulau dan batu-batu besar tegak yang berdiri di atas air. Permukaan lautnya menampakkan warna yang kehijauan.

Situasi Pulau
Pulau Berhala di masa lalu di kenal sebagai Pulau Dakjal, Pulau Bratail, Pulau Bertayil atau Pulau Afgorl (Belanda), Pulau Birella (Tome Pires), Pulau Verrela (Portugis). Bahkan ada yang menyebutnya sebagai Pulau Hantu. Pulau Berhala merupakan salah satu gugusan pulau yang terhampar di sebelah Timur Pulau Sumatera. Di sekitar Pulau Berhala terdapat tiga pulau dan empat buah rangkaian batu-batu yang bagaikan muncul dari dalam laut. Ketiga pulau dan batu-batu itu seakan-akan mengawal Pulau Berhala dari arah Selatan dan Timur. Pulau-pulau itu adalah Pulau Layak, Pulau Suar, dan Pulau Telor. Sedangkan rangkaian batu di tengah laut diantaranya dua buah terletak di dekat Pulau Layak, satu buah di dekat Pulau Suar, dan satu buah lainnya terletak di dekat Pulau Telor.

Pulau Berhala merupakan pulau yang terbesar dan terluas di antara gugusan pulau tersebut. Luasnya sekitar 60 hektar. Pulau ini berbentuk bukit dengan ketinggian sekitar 200 meter dari permukaan laut. Pohon-pohon yang tumbuh dengan lebatnya memberikan nuansa hijau di sekeliling pulau. Pada bagian dasar pulau terdapat pantai-pantai yang berpasir putih dengan batu-batu besar dan kecil di sekitarnya. Pasir putih ini berasal dari pecahan batuan kuarsa dan bukan dari pecahan terumbu karang. Lokasi pantai berpasir putih terdapat di lima tempat, yaitu satu buah di sisi selatan, satu buah di sisi timur, satu buah di sisi utara, dan dua buah di sisi barat. Di pantai sisi selatan di huni oleh penduduk asal Jambi sedangkan di sisi timur dihuni oleh penduduk asal Riau. Di lokasi sebelah selatan terdapat homestay (rumah tinggal) yang dibangun oleh Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Propinsi Jambi dan dua buah dermaga. Dermaga yang di sebelah Timur dalam kondisi sudah rusak dibangun oleh Pemerintah Propinsi Riau dan dermaga yang disebelah Barat dibangun oleh Pemerintah Propinsi Jambi. Penduduk menghuni pantai-pantai yang terletak di sisi Selatan, Timur, dan Barat. Penduduk yang berjumlah 39 KK terutama menempati sisi Selatan dan Timur. Hal ini dikaitkan dengan lokasi kedua tempat tersebut yang landai dan terhalang oleh pulau di depannya, sehingga cukup aman dari terjangan angin barat yang cukup kuat.

Pulau Layak berada tepat di depan Pulau Berhala. Sisi selatannya dibatasi oleh laut yang dalam. Pulau Layak merupakan pulau yang hijau oleh pepohonan di bagian atasnya, sedangkan bagian bawahnya berbatu. Pulau ini kosong tidak berpenghuni. Pulau Suar merupakan pulau yang berbatu-batu. Batu-batu di pulau ini memiliki ukuran besar. Letaknya di sebelah barat daya Pulau Layak. Pada bagian atasnya tumbuh sejumlah pohon kelapa. Di pulau ini terdapat menara mercusuar dengan konstruksi besi dan rumah jaga. Mercusuar ini berfungsi sebagai pemandu lalulintas kapal yang melintasi Pulau Berhala, karena memang cukup ramai dilewati kapal-kapal yang menuju Selat Malaka. Pulau Telor disebut juga dengan Pulau Penyu atau Pulau Sisik. Letaknya di sebelah Timur laut Pulau Berhala. Lokasi pulau tidak sedekat antara Pulau Berhala dan Pulau Layak. Pulau ini merupakan tempat bertelurnya Penyu Sisik dan Penyu Hijau. Pada waktu-waktu tertentu penyu ini dapat terlihat di pasir putih. Di pulau ini terdapat pantai berpasir putih di tiga tempat, yaitu sisi Selatan, Barat, dan Timur. Pada pantai yang terletak di sisi Barat cukup indah karena di kelilingi oleh batuan sehingga membentuk suatu laguna.

Kepurbakalaan
Di Pulau Berhala dapat dijumpai peninggalan arkeologis yang berupa makam Datuk Paduko Berhala dan peninggalan tentara Jepang. Datuk Paduko Berhalo adalah gelar yang diberikan kepada seorang Turki yang bernama Ahmad Barus II. Ahmad Barus II datang dan menetap di Pulau Berhala setelah menikah dengan putri setempat yang bernama Putri Selaras Pinang Masak yang tinggal di Ujung Jabung. Selanjutnya dari pernikahan mereka lahirlah Orang Kayo Hitam yang menurunkan sultan-sultan di Jambi. Para keturunan Orang Kayo Hitam ini tidak menetap di Pulau Berhala melainkan memasuki pedalaman Jambi melalui Sungai Batanghari. Istana mereka yang berada di Tanah Pilih (Kota Jambi) masih berdiri sampai Belanda membumihanguskannya di masa Sultan Thaha Syaifuddin.

Peninggalan tentara Jepang ditemukan di tepi pantai di sisi Timur Pulau Berhala dan di atas Bukit Meriam. Tentara Jepang ditempatkan di Pulau Berhala dikarenakan lokasinya yang strategis. Dari Pulau Berhala ini dapat terlihat pergerakan kapal perang dari dan menuju Pulau Jawa atau Sumatera Bagian Selatan. Mereka diperkuat oleh meriam besar yang ditempatkan di puncak bukit. Peninggalan Tentara Jepang terdapat di tepi pantai dan atas bukit Meriam. Temuan yang terdapat di tepi pantai adalah tungku masak dan bunker tanah. Sedangkan temuan yang di atas bukit meriam adalah meriam besar, bunker, tanah datar, dan meriam katak.

a. Tungku Masak
Temuan terletak di sisi Timur Laut Pulau Berhala. Tempat ini tepat dipinggir jalan setapak yang menghubungkan makam Datuk Paduka Berhala dengan perkampungan nelayan. Jaraknya dari tepi pantai hanya berjarak 16 meter. Tungku masak ini berupa bangunan yang berbentuk huruf T berukuran panjang 2,7 meter, lebar 1,24 meter dan tinggi 77 cm. Tungku mempunyai tiga lubang di bagian samping dan atas. Lubang dibagian samping berfungsi untuk memasukkan kayu yang akan dibakar, sedangkan bagian atas untuk keluarnya api. Ukuran lubang tidak sama atau semakin mengecil. Diameter lubang adalah 75 cm, 36 cm, dan 30 cm.
Di lokasi dijumpai pula tungku yang lebih kecil dengan dua lubang berukuran diameter 35 cm dan 25 cm. Namun kondisinya telah rusak dibagian atas. Temuan lainnya adalah lantai di sekitar tungku dan lantai tempat mencuci yang dilengkapi dengan saluran air (got) yang menuju ke pantai. Lantai untuk mencuci berukuran 180 cm x 180 cm. Di tempat ini juga terdapat sumur tua.

b. Bunker Tanah
Bunker terletak tidak jauh dari tungku. Lokasinya di sebelah kiri dari jalan setapak yang mendaki menuju perkampungan nelayan. Temuan berupa bunker yang berupa lubang tanah yang dikerjakan dengan menggali tanah berbentuk bujur sangkar berukuran 5 x 5 meter dengan kedalaman 1,5 meter. Pada salah satu sisi bunker terdapat parit yang merupakan jalan masuk ke dalam bunker. Parit digunakan untuk melindungi dari tembakan musuh. Temuan lain adalah tanah tinggi yang berfungsi untuk membentengi bunker. Benteng tanah berbentuk huruf L. Selain itu terdapat tembok yang pada bagian atasnya membentuk huruf U mengarah ke tungku atau pantai. Tembok berukuran panjang 140 cm, lebar 110 cm, dan tinggi 140 cm.

c. Meriam Besar
Lokasi meriam terletak di atas Bukit Meriam dengan kondisi tergeletak di atas tanah. Saksi mata yang bernama Bapak Hasan mengatakan pada saat kecil bermain-main dengan meriam itu. Beliau duduk di pangkal meriam yang dilengkapi dengan tempat duduk yang diberi sabuk dan memutar meriam ke segala arah karena mempunyai bantalan besi (rel) dibagian bawah yang berbentuk lingkaran. Meriam ini hancur fondasinya dikarenakan dibom oleh orang yang bermaksud mengambilnya. Digambarkan bom yang disebut bom “singapur” karena berasal dari Singapura meledak dengan suara yang amat dahsyat sehingga menggetarkan rumah-rumah penduduk. Menurut informasi, meriam dibawa ke atas bukit menggunakan penduduk lokal dengan ditutup matanya. Hal itu untuk menjaga kerahasiaan meriam dari musuh.
Meriam berukuran panjang 5 meter dengan luas penampang pada bagian bawahnya 30 cm sedangkan bagian ujungnya 17 cm. Pada bagian badan meriam terdapat tanda bekas gergajian yang menandakan adanya usaha untuk membelah bagian laras. Meriam ini ditempatkan dilubang yang berbentuk lingkaran dengan diameter 750 cm.
Pada sisi sebelah Utara terdapat parit yang menuju ke lereng bukit sebelah Utara. Di lereng tersebut terdapat tanah datar yang berukuran panjang 22,70 meter dan lebar 10 meter. Di sebelah barat tanah datar terdapat bunker berukuran pankang 3,7 meter, lebar 3,7 meter, dan kedalaman 1 meter. Bunker ini terhubung dengan bunker lain yang berada disebelah Selatan melalui parit. Bunker berukuran panjang 5 meter, lebar 3,5 meter, dan kedalaman 1 meter. Tampaknya meriam besar tersebut dilindungi oleh pasukan yang berdiam di lubang-lubang bunker.

d. Bunker Beton
Bunker yang terbuat dari beton terletak di sebelah barat dari meriam. Lubang bunker berbentuk persegi enam yang sisinya berukuran 100 cm. Pada bagian atas lubang terdapat tiang-tiang yang telah runtuh berjumlah 4 buah. Tiang berukuran panjang 53 cm, lebar 50 cm, dan tinggi 65 cm. Pada tengah lubang terdapat runtuhan atap beton yang berbentuk persegi enam. Pada sisi Utara bunker itu terdapat parit yang menuju ke tanah datar di sebelah Utara. Parit ini tidak dapat dilewati oleh manusia karena sangat sempit. Diperkirakan berfungsi untuk mengalirkan air yang masuk ke dalam bunker.

e. Meriam Katak
Meriam ini terguling di lereng bukit berjarak 10 meter dari tempat semulanya di tanah datar yang berukuran panjang 3,7 meter dan lebar 3,7 meter. Tanah datar ini merupakan teras kedua atau yang paling bawah. Di lokasi tersebut dijumpai pula tungku untuk memasak berukuran kecil dengan dua lubang pembakaran dan fondasi meriam. Bentuk meriam sangat unik karena larasnya dibagian atas terbuka. Meriam berukuran panjang 204 cm dan lebar 30 cm. Meriam ini oleh penduduk diberi nama meriam katak karena sering lokasinya sulit ditemukan atau seperti katak yang meloncat-loncat kesana kemari.

f. Keramik Cina
Pulau Berhala juga menyimpan peninggalan keramik-keramik yang berupa guci Guci-guci yang dimiliki oleh penduduk masih banyak yang utuh. Jenis guci berasal dari masa Dinasti Ching yang umum digunakan sebagai wadah minuman.


Penutup
Kehidupan di sebuah pulau kecil dalam suasana perang tentu saja tidak akan menyenangkan. Keperluan hidup mereka sangat terbatas dan tergantung kepada suplai makanan. Tentara Jepang yang bertugas di Pulau Berhala tinggal di bunker-bunker. Bunker dianggap dapat melindungi mereka dari serangan musuh. Di beberapa daerah banyak ditemukan bunker yang disebut sebagai bunker Jepang. Namun sayang di bunker-bunker itu tidak ditemukan lagi lempengan besi yang berfungsi sebagai pelindung bagian atas. Pengambilan besi bekas untuk dijual telah menghilangkan peninggalan-peninggalan itu.

Pulau Berhala memiliki peninggalan purbakala yang merupakan bukti kemenangan dan kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II di Indonesia. Ribuan nyawa melayang dengan atau tanpa diketahui keluarganya di pulau ini. Generasi mendatang dapat mengenangnya melalui peninggalan-peninggalan tersebut. Oleh karena itu pelestarian terhadap peninggalan purbakala di pulau ini perlu dilakukan. Upaya pelestarian itu juga diharapkan nantinya akan bermanfaat untuk menambah khasanah wisata di Pulau Berhala.

Pelestarian peninggalan Jepang berupa meriam dilakukan dengan menempatkannya pada keadaan semula ketika meriam itu masih berfungsi. Penataan lingkungan untuk menampakkan bunker dan parit-parit penghubungnya serta tanah lapang yang berundak yang tertutup oleh rimbunan pepohonan akan membuka pandangan ke sekeliling pulau sehingga menambah suasana indah. Tungku diberi pelindung untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Sedangkan untuk keramik dikumpulkan dan ditempatkan pada suatu bangunan. Selain itu dilakukan penataan lingkungannya dengan cara membersihkan lokasi dari tanaman liar dan membuat suatu taman.


Share:

Profile

Foto saya
AGUS SUDARYADI, arkeolog yang bekerja di Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi Wilayah Kerja Prop. Jambi, Sumsel, Bengkulu, dan Kep. Bangka-Belitung yang sering melakukan Jelajah Situs dalam rangka Pelestarian Cagar Budaya. Menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Situs adalah lokasi yang berada di darat dan/atau di air yang mengandung Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan atau Struktur Cagar Budaya sebagai hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian pada masa lalu. Pekerjaan tersebut memberikan saya kesempatan untuk menjelajahi pelosok negeri di Propinsi Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Kepulauan Bangka-Belitung. Pelosok karena lokasi yang kami datangi kebanyakan berada di luar kota, bahkan sampai masuk hutan. Maklum Cagar Budaya atau Diduga Cagar Budaya yang saya tuju sekarang berada di daerah yang jauh dari kota. Kegiatan yang memerlukan stamina dan mental yang kuat adalah dalam rangka pelestarian Cagar Budaya Bawah Air. Saya telah mengikuti pelatihan Arkeologi Bawah Air di dalam dan luar negeri, antara lain Makassar Sulsel, Pulau Bintan Kepri, Tulamben Bali, dan Karimunjawa Jateng serta Thailand dan Sri lanka.

Popular Posts

Recent Posts

Pages